Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lom Plai 2026 Bergulir, Ritual Ngesea Egung Tandai Dimulainya Festival Adat Dayak Wehea

Jufriadi • Selasa, 24 Maret 2026 | 14:05 WIB

BUDAYA: Prosesi Ngesea Egung atau pembunyian gong oleh tokoh adat Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Senin (23/3), menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian adat Lom Plai 2026.
BUDAYA: Prosesi Ngesea Egung atau pembunyian gong oleh tokoh adat Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Senin (23/3), menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian adat Lom Plai 2026.
 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Festival adat Lom Plai di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim), resmi bergulir, Senin (23/3). Tradisi tahunan Suku Dayak Wehea itu dibuka melalui prosesi sakral Ngesea Egung atau pembunyian gong sebagai simbol dimulainya rangkaian adat.

Ketua Panitia Lom Plai 2026, Efendi, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Menurut dia, Lom Plai merupakan rangkaian ritual adat yang memiliki tahapan panjang hingga mencapai puncaknya.

“Lom Plai ini bukan festival biasa, tapi rangkaian adat. Jadi untuk menentukan waktunya kita harus mengikuti hitungan adat dari para tetua, tidak bisa ditetapkan tanggal pasti setiap tahunnya,” ujarnya.

Usai prosesi pembukaan, agenda berlanjut pada Selasa (24/3) dengan pelaksanaan Laq Pesyai. Ritual ini berupa pengambilan buah ketete yang sarat makna, yakni sebagai simbol keberkahan sekaligus keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Efendi menyebut, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tahapan Lom Plai mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat, sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.

“Adat ini adalah peninggalan luar biasa dari leluhur kita. Sudah seharusnya terus dijaga dan dilestarikan,” katanya.

Tahun ini, Lom Plai juga masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Momentum tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperkenalkan budaya Dayak Wehea ke tingkat nasional.

“Harapannya tentu semakin banyak yang datang, sehingga budaya kita bisa dikenal luas,” tambah Efendi.

Di sisi lain, penyelenggaraan kegiatan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait pendanaan dan keterbatasan sumber daya panitia. Hingga kini, dukungan anggaran masih bertumpu pada pihak ketiga, seperti perusahaan, koperasi, dan partisipasi masyarakat.

“Secara adat, masyarakat juga berpartisipasi dengan membawa bahan makanan dari rumah masing-masing seperti beras, pisang, dan lainnya untuk dimasak bersama,” jelasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#adat dayak #Lom Plai #kutai timur #Kharisma Event Nusantara #sangatta #Dayak Wehea #kutim