KALTIMPOST.ID, DUBAI – Iran memperkeras sikap dalam kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat di tengah upaya mediasi internasional untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.
Sejumlah sumber senior di Teheran menyebut keputusan penting kini semakin dipengaruhi oleh Garda Revolusi Iran.
Menurut tiga sumber senior pemerintah Iran seperti dilansir Reuters, posisi negosiasi Teheran menjadi jauh lebih keras sejak perang pecah.
Apabila pembicaraan serius dengan Washington benar-benar terjadi, Iran akan menuntut sejumlah konsesi besar dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Kesaksian Mencekam Penumpang Air Canada, Ledakan Keras di Landasan dan Evakuasi Lewat Sayap Pesawat
Dalam setiap kemungkinan perundingan, Iran disebut tidak hanya meminta penghentian perang, tetapi juga beberapa syarat tambahan yang diperkirakan sulit diterima oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Beberapa tuntutan tersebut antara lain jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan kembali melakukan serangan militer di masa depan, kompensasi atas kerugian akibat perang, serta pengakuan resmi terhadap kendali Iran atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global biasanya melewati jalur laut tersebut.
Selain itu, Iran juga menolak keras membahas pembatasan program rudal balistiknya dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat.
Isu ini sebelumnya juga menjadi garis merah bagi Teheran dalam perundingan yang berlangsung sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel bulan lalu.
Baca Juga: Harga Bensin AS Melejit, Oposisi Tuding Kebijakan Perang Trump Jadi Biang Keladi
Sementara itu, Presiden Donald Trump pada Senin lalu menyatakan bahwa Washington telah melakukan “pembicaraan yang sangat kuat” dengan Iran meski perang telah berlangsung lebih dari tiga minggu.
Namun klaim tersebut dibantah oleh pemerintah Iran yang menyatakan tidak ada negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Menurut sumber di Teheran, sejauh ini Iran hanya melakukan pembicaraan awal dengan Pakistan, Turki, dan Mesir untuk menilai apakah ada peluang membuka jalur dialog dengan Washington guna mengakhiri konflik.
Seorang pejabat Eropa juga mengatakan belum ada negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Namun beberapa negara seperti Mesir, Pakistan, serta negara-negara Teluk disebut menjadi perantara penyampaian pesan antara kedua pihak.
Sumber dari Pakistan bahkan menyebut kemungkinan perundingan langsung untuk mengakhiri perang dapat digelar di Islamabad pada pekan ini.
Jika pembicaraan tersebut benar-benar berlangsung, Iran disebut akan mengirim Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi sebagai perwakilan dalam perundingan.
Meski demikian, para sumber menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Garda Revolusi Iran yang memiliki pengaruh kuat dalam kebijakan keamanan negara.
Di sisi lain, sejumlah pejabat senior Israel meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Mereka menilai Teheran kecil kemungkinan akan menyetujui tuntutan Washington yang diyakini mencakup penghentian program rudal balistik serta program nuklir Iran.
Penggunaan rudal balistik oleh Iran dan kemampuannya mengancam penutupan Selat Hormuz selama ini dianggap sebagai respons paling efektif terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel.
Para analis menilai Iran sulit menyerahkan kemampuan tersebut karena akan membuat negara itu kehilangan pertahanan terhadap kemungkinan serangan di masa depan.
Selain faktor militer, kondisi politik domestik di Iran juga mempengaruhi posisi negosiasi pemerintah.
Beberapa sumber menyebut meningkatnya pengaruh Garda Revolusi, ketidakpastian kepemimpinan setelah pengangkatan pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei, serta narasi ketahanan nasional di tengah perang turut membatasi ruang gerak pemerintah dalam perundingan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko