KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menunjukkan titik terang di meja diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa sejumlah negara tengah bergerak melakukan upaya mediasi untuk mengakhiri perseteruan antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Meski menyambut baik inisiatif damai tersebut, Teheran memberikan syarat yang cukup keras. Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak tertarik pada opsi gencatan senjata sementara yang bersifat jangka pendek.
"Iran menginginkan penghentian perang secara menyeluruh, komprehensif, dan permanen. Kami tidak menginginkan solusi setengah-setengah," tegas Araghchi dalam sebuah sesi wawancara yang dilansir sejumlah media internasional.
Baca Juga: AS Disebut Kirim 15 Tawaran ke Iran untuk Akhiri Perang, Pakistan Jadi Perantara
Perang yang Dipaksakan
Diplomat senior Iran tersebut menyebut bahwa situasi yang terjadi saat ini merupakan "perang yang dipaksakan". Mirisnya, agresi terhadap wilayah Iran terjadi saat Teheran sebenarnya tengah menjalani proses negosiasi nuklir dengan pihak Washington.
Araghchi membela posisi negaranya dengan menyebut serangan balasan yang dilakukan Iran adalah murni bentuk pembelaan diri atas kedaulatan negara. Ia memastikan perlawanan akan terus berlanjut selama ancaman terhadap keamanan nasional mereka masih ada.
Status Selat Hormuz
Terkait jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, Araghchi memberikan klarifikasi penting. Iran memastikan tidak akan menutup total jalur perdagangan dunia tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Gertakan, Iran Resmi Serang Israel Selasa Pagi, Ini Kondisinya!
Meski demikian, Teheran akan memberlakukan pembatasan ketat terhadap kapal-kapal dari negara yang terlibat langsung dalam serangan ke Iran. Sebaliknya, Iran menjamin keamanan navigasi bagi negara-negara lain yang tetap berkoordinasi secara baik.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan memuncak dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut menargetkan ibu kota Teheran dan sejumlah kota besar lainnya.
Insiden itu tercatat menimbulkan korban jiwa yang signifikan, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, jajaran komandan militer senior, hingga warga sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone ke wilayah Israel serta basis-basis militer AS di kawasan Timur Tengah.(*)
Editor : Dwi Puspitarini