KALTIMPOST.ID, TEHERAN/WASHINGTON – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat meski Washington mengajukan rencana perdamaian untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran saat ini tetap memilih melanjutkan perlawanan di tengah perang yang telah berlangsung hampir empat pekan.
“Saat ini kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan. Kami tidak berniat untuk bernegosiasi,” kata Araghchi dalam pernyataan di televisi pemerintah Iran.
Baca Juga: Antrean Bandara AS Terparah dalam Sejarah, 480 Petugas Keamanan Mundur di Tengah Krisis Anggaran
Pernyataan itu muncul setelah Gedung Putih meningkatkan tekanan terhadap Iran. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington siap mengambil langkah militer lebih keras jika Teheran menolak kesepakatan yang ditawarkan.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump siap bertindak tegas apabila Iran tidak menerima realitas situasi saat ini.
“Jika Iran gagal menerima kenyataan saat ini, Presiden Trump akan memastikan mereka menerima serangan yang lebih keras dari sebelumnya,” ujar Leavitt.
Konflik di kawasan Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, ketegangan meluas ke berbagai wilayah di kawasan.
Beberapa negara yang terdampak serangan antara lain Iran, Israel, Lebanon, Bahrain, Kuwait, Yordania, hingga Arab Saudi.
Sementara itu, laporan pejabat Pakistan menyebutkan Islamabad telah menyampaikan rencana perdamaian Amerika Serikat kepada Teheran. Proposal tersebut berisi 15 poin yang bertujuan menghentikan perang.
Namun Iran menolak rencana tersebut. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran hanya bersedia mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang diajukan sendiri.
Baca Juga: Panic Buying BBM di Kalbar Meledak! Tito Karnavian Perintahkan Cabut Surat Edaran Pembatasan
Araghchi menyebut pembicaraan melalui negara perantara tidak bisa dianggap sebagai negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, Iran hanya akan mengakhiri konflik jika ada jaminan kuat bahwa serangan serupa tidak akan terulang di masa depan.
Di tengah konflik tersebut, Iran juga menutup sebagian jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel. Jalur ini merupakan rute penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Teheran mengajukan lima syarat untuk menghentikan konflik, termasuk jaminan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan kembali menyerang Iran serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Di sisi lain, Iran juga memperingatkan kemungkinan membuka front baru di Laut Merah jika Amerika Serikat melancarkan invasi darat.
Baca Juga: Prabowo Pasang Badan, Program Makan Bergizi Gratis Jalan Terus
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan konflik tersebut kini berada dalam situasi yang semakin tidak terkendali.
Sementara itu, perang juga terus meluas ke Lebanon setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke wilayah Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pasukannya terus memperluas zona penyangga di Lebanon selatan dan menegaskan pembongkaran Hizbullah tetap menjadi target utama Israel.
Perang yang berlangsung selama lebih dari tiga minggu di Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Ketegangan di kawasan juga berdampak pada pasar energi global. Harga minyak sempat turun setelah muncul laporan kemungkinan negosiasi, tetapi kembali naik dan mendekati level 100 dolar AS per barel.
Editor : Thomas Priyandoko