Perjalanan tiga jam menggunakan speedboat dari Kota Tarakan menuju pelosok Tana Tidung merupakan realita geografis yang menantang. Di tengah kendala akses dan sinyal yang tidak stabil, komitmen pemerintah daerah dalam memajukan pendidikan justru semakin dipertaruhkan.
Di balik upaya itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tana Tidung, Arman Jauhari berdiri sebagai salah satu motor penggerak. Baginya, membangun mutu pendidikan di daerah 3T bukan pekerjaan instan, melainkan kerja konsisten yang menuntut keberanian turun langsung ke lapangan.
“Secara geografis itu memang kendala. Ada kecamatan yang harus ditempuh tiga jam lagi dengan speedboat,” ujarnya. “Tapi kami tidak bisa hanya mengandalkan koordinasi secara online. Kami harus turun langsung ke lapangan, untuk bisa jumpa sekaligus memberi motivasi kepada guru dan siswanya.”
Dari Pendidikan Dasar ke PAUD, Fondasi yang Dikuatkan
Sejak 2021, kolaborasi dengan Tanoto Foundation menjadi salah satu penguat sistem pendidikan di Tana Tidung. Awalnya, kerja sama difokuskan di tingkat SMP melalui pendampingan pembelajaran dan peningkatan kapasitas guru dan pengembangan sistem monitoring untuk pengambilan keputusan berbasis data.
“Hasilnya cukup membuahkan dampak yang baik,” kata Arman.
Pendampingan yang dilakukan membantu meningkatkan potensi dan kualitas tenaga pendidik. Program ini bertujuan membantu meningkatkan potensi dan kualitas tenaga pendidik. Selama ini, fokus kita masih pada pendidikan dasar. Namun, ke depan akan dilakukan perluasan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai fondasi awal dalam pembentukan karakter anak. Pemerintah daerah pun mulai memberikan perhatian lebih terhadap PAUD.
“Sekarang kita mulai masuk ke PAUD karena merupakan fondasi awal, kami berharap adanya sharing serta pendampingan lebih lanjut, khususnya bagi tenaga pengajar PAUD,” Jelas, Arman.
Ia menegaskan, bahwa komitmen terhadap PAUD sudah kuat, termasuk dukungan dari Bunda PAUD Tana Tidung, Vamelia Ibrahim Ali.
“Kami tahu Bunda PAUD sangat berkomitmen membangun PAUD di Tana Tidung. Tapi ini bukan titik akhir. Kita ingin terus meningkatkan potensi dan kompetensi pendidik,” sebutnya.
Literasi sebagai Gerakan Bersama
Peningkatan kompetensi guru mulai menunjukkan hasil konkret. Beberapa guru meraih penghargaan di tingkat kabupaten hingga nasional. Meski begitu, bagi Arman, capaian itu bukan tujuan akhir.
“Penghargaan itu bukan hasil akhir, tapi indikator bahwa peningkatan kompetensi berjalan,” ungkapnya.
Salah satu fokus utama adalah literasi. Dinas Pendidikan menggandeng berbagai perangkat daerah untuk membangun budaya baca. Saat ini, terdapat 32 Taman Baca Masyarakat yang aktif mendukung gerakan literasi.
“Kami mendorong pendidikan literasi secara masif. Taman baca ini sangat mendukung lahirnya bunda literasi di masyarakat,” katanya.
Literasi, menurutnya, bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi membangun kebiasaan berpikir dan membuka wawasan generasi muda.
Mengubah Keterbatasan Menjadi Semangat
Namun tantangan tak hanya soal jarak. Ada tantangan mental yang tak kalah besar. “Kita juga harus membuka wawasan dan pikiran teman-teman guru, bahwa keterbatasan bukan hambatan, tapi semangat,” tegas Arman.
Kita ini perintis, bukan pewaris. Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia menjadi prinsip yang terus diulang untuk membangkitkan daya juang para pendidik di wilayah terpencil.
Dukungan pun datang dari berbagai pihak, bupati, Bunda PAUD, hingga komisi pendidikan. Dari sisi kebijakan, pemerintah daerah memastikan alokasi anggaran pendidikan tetap terjaga, termasuk komitmen mandatory 20 persen dari APBD.
“Kami siap mendukung kebijakan daerah. Dukungan dana ada, kebijakan ada. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan kolaborasi,” ungkapnya.
Harapan untuk Kolaborasi Berkelanjutan
Ke depan, harapannya jelas, kerja sama dengan Tanoto Foundation tidak berhenti di sini.
“Kita ingin saling mengisi gap yang ada. Kami menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kita berharap hasil pendidikan di Tana Tidung semakin baik,” tuturnya.
Di kabupaten yang harus ditempuh lewat sungai dan jarak, pendidikan tumbuh lewat komitmen dan keberanian untuk menjadi perintis. Bagi Arman Jauhari, perjuangan itu belum selesai, justru sedang diperkuat. (adv/kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan