KALTIMPOST.ID-Libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momentum yang mengubah wajah Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kawasan yang sebelumnya identik dengan proyek pembangunan, kini menjelma menjadi magnet baru pergerakan manusia.
Tak hanya warga Kaltim, arus kunjungan datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Mereka datang membawa rasa penasaran yang berkelindan dengan harapan pada masa depan ibu kota baru Indonesia tersebut.
Sejak awal Maret, geliat itu sebenarnya sudah terbaca. Dua pekan lalu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kaltim, Restiawan Baihaqi memproyeksi pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 di Kaltim diperkirakan naik 5–10 persen.
Dengan potensi mobilitas mencapai 470 ribu hingga 528 ribu orang. Dalam peta destinasi, IKN menempati posisi strategis sebagai tujuan utama.
Prediksi itu menemukan jawabannya. Berdasarkan rilis Otorita IKN, hingga 24 Maret 2026 tercatat sebanyak 143.126 orang berkunjung ke kawasan IKN, dengan 30.544 kendaraan memasuki Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Lonjakan tersebut bukan tanpa sebab. Akses menuju IKN kini semakin terbuka. Uji coba jalan Tol IKN fungsional dari Balikpapan memangkas waktu tempuh menjadi hanya sekitar 45–60 menit.
Di lapangan, angka-angka itu menjelma menjadi keramaian nyata. KIPP dipadati pengunjung yang datang rombongan.
Keluarga, komunitas, hingga wisatawan lokal. Mereka menyusuri titik-titik yang kini menjadi ikon baru kawasan tersebut.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik sekaligus Juru Bicara Otorita IKN Troy Pantouw melihat fenomena itu lebih dari sekadar kunjungan biasa.
Arus manusia yang masuk, menurutnya, telah memicu efek berganda bagi ekonomi lokal.
“Arus kunjungan masyarakat tidak hanya menciptakan keramaian, tetapi juga menguatkan aktivitas ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM. Kami melihat peningkatan pendapatan masyarakat setempat,” ujarnya, Sabtu (28/3).
Dampak itu terasa langsung di lapangan. Kevin, pelaku usaha di Rumah Makan Global kawasan glamping, mengaku omzetnya yang semula sekitar Rp1 juta per hari kini meningkat konsisten seiring membeludaknya pengunjung.
Cerita serupa datang dari Nita, pemilik Café Sepaku Empat. Jika hari biasa omzetnya sekitar Rp 1,8 juta, selama tiga hari pertama Lebaran melonjak drastis menjadi Rp 10–15 juta per hari. Produk mochi miliknya bahkan menjadi buruan pengunjung.
Di titik lain, Wahyu, penjual Dawet Ayu “Bang Brewok” di Plaza Seremoni, mencatat omzet Rp 10–12 juta per hari.
Dina, pelaku UMKM souvenir Nusantara, menyebut pendapatannya naik hingga dua kali lipat, didorong tingginya permintaan baju bertema Nusantara. (rd)
Editor : Romdani.