KALTIMPOST.ID, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan langkah antisipasi yang tengah disiapkan pemerintah untuk menghadapi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga sekitar 97 dolar AS per barel. Jika skenario ini terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga bisa menekan kondisi fiskal nasional. Bahkan, defisit APBN berisiko menembus batas aman 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah.
Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah meningkatkan penerimaan negara melalui kebijakan tambahan pajak ekspor batu bara. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 agar lebih adaptif terhadap kondisi global yang dinamis.
Baca Juga: Usulan Kenaikan Gaji PNS 2026 Usai Lebaran Ditanggapi Menkeu Purbaya, Begini Respon Terbarunya sekaligus Nominal per Golongan
Tak hanya itu, langkah efisiensi juga menjadi fokus utama. Pemerintah berencana melakukan penghematan belanja negara, tanpa mengganggu program prioritas. Di sisi lain, stimulus ekonomi tetap akan disiapkan guna menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan optimalisasi penerimaan dari sektor perpajakan dan kepabeanan. Dengan memperbaiki sistem dan pengawasan, pemerintah berharap kebocoran dapat ditekan sehingga penerimaan negara bisa tetap terjaga meski tekanan global meningkat.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dengan berbagai skenario yang telah disiapkan, diharapkan dampak lonjakan harga minyak dunia dapat diminimalkan.