KALTIMPOST.ID, TEHERAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian merembet ke sektor teknologi. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan yang menyasar infrastruktur digital milik perusahaan Amerika Serikat.
Laporan media pemerintah Iran menyebut, target utama berada di kawasan Teluk. Fasilitas komputasi awan milik Amazon di Bahrain serta sistem basis data Oracle di Dubai, Uni Emirat Arab, dikabarkan menjadi sasaran operasi tersebut.
Baca Juga: Perbandingan Harga BBM ASEAN! Melonjak Tajam Laos Tembus Rp30 Ribu, Ini Kondisi Indonesia
Aksi ini disebut sebagai balasan atas serangan sebelumnya yang menimpa kediaman tokoh penting Iran di Teheran pada awal April. Insiden itu dilaporkan menewaskan seorang anggota keluarga dan menyebabkan korban luka serius.
Pihak IRGC menegaskan, langkah ini merupakan peringatan keras bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Iran sebelumnya telah menyatakan tidak akan tinggal diam jika tekanan militer terhadap para pemimpinnya terus berlanjut.
Dalam klaim yang beredar, fasilitas pusat data di Bahrain disebut mengalami kerusakan berat. Namun, belum ada konfirmasi independen dari pihak terkait mengenai tingkat kerusakan maupun dampak operasionalnya.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru. Perusahaan teknologi global seperti Google dan YouTube disebut-sebut berpotensi menjadi target berikutnya jika konflik terus meningkat.
Baca Juga: Nasib Guru Madrasah Swasta Menggantung, 630 Ribu Gagal Jadi PPPK? Ini Penyebabnya
Pengamat menilai, eskalasi yang mulai menyentuh sektor digital bisa berdampak luas, termasuk terhadap layanan internet global. Jika benar terjadi, serangan terhadap pusat data berisiko mengganggu stabilitas layanan digital lintas negara.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun perusahaan-perusahaan yang disebut terkait insiden tersebut.
Editor : Uways Alqadrie