KALTIMPOST.ID, PARIS – Krisis bahan bakar minyak (BBM) mulai melanda Prancis. Ratusan hingga ribuan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) dilaporkan kehabisan stok akibat lonjakan pembelian oleh masyarakat yang khawatir pasokan semakin menipis.
Lonjakan ini dipicu kebijakan pembatasan harga (price cap) yang justru mendorong konsumsi secara besar-besaran. Di saat bersamaan, distribusi energi global terganggu imbas konflik di Timur Tengah, membuat pasokan semakin tertekan.
Data Kementerian Energi Prancis menyebut sekitar 900 SPBU mengalami kekosongan pada salah satu jenis BBM.
Namun sejumlah laporan lain memperkirakan jumlahnya lebih tinggi, bahkan mencapai 1.600 titik. Dari angka tersebut, sekitar 700 SPBU berasal dari jaringan perusahaan energi besar.
Pemerintah Prancis menilai masalah utama bukan pada ketersediaan nasional, melainkan hambatan distribusi dan logistik.
Meski demikian, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama dengan melonjaknya harga diesel hingga menyentuh kisaran 2,25 euro per liter.
Situasi ini tidak lepas dari memanasnya konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang turut mengganggu jalur vital pasokan minyak dunia, termasuk di Selat Hormuz.
Ketidakpastian tersebut memperparah tekanan energi di Eropa dan memicu kepanikan di tingkat konsumen.
Editor : Uways Alqadrie