Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Humas RSUD AWS Samarinda Pastikan Audit Medis Kasus Luka Infus Balita Sedang Berjalan

Eko Pralistio • Kamis, 9 April 2026 | 19:39 WIB
KOORDINASI: RSUD AWS Samarinda berkoordinasi dengan pemkot membahas penanganan pasien terlantar tanpa identitas.
Tim medis RSUD AWS Samarinda sedang melakukan audit internal secara objektif terkait keluhan luka pada tangan pasien balita. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan dilaporkan kepada  pemprov  dan DPRD Kaltim sebagai bentuk akuntabilitas layanan. (DOK/KP)

 

KALTIMPOST.ID-Dugaan malapraktik terhadap seorang balita di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda memasuki tahap audit medis. Rumah sakit milik Pemprov Kaltim itu diminta membuka hasil pemeriksaan secara objektif dan transparan, di tengah sorotan publik atas luka serius pada tangan pasien usai pemasangan infus.

Desakan audit menyeluruh datang dari Komisi IV DPRD Kaltim yang melakukan inspeksi mendadak ke RSUD AWS, Selasa (7/4/2026). DPRD menegaskan, langkah tersebut penting untuk memastikan keselamatan pasien sekaligus menjaga akuntabilitas layanan kesehatan publik.

Menanggapi hal itu, Humas RSUD AWS Samarinda, dr. Arysia Andhina, memastikan proses audit medis sedang berjalan. "Masih dilakukan audit medis terkait dugaan tersebut, dan akan disampaikan hasilnya apabila proses audit medisnya selesai," ucapnya singkat, Kamis (9/4/2026).

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menegaskan bahwa prinsip keselamatan pasien tidak bisa ditawar dalam setiap layanan medis, terlebih di fasilitas kesehatan milik pemerintah. "Kami sudah menekankan kepada RSUD AWS bahwa keselamatan pasien itu tidak bisa ditawar-tawar. Itu menjadi sesuatu yang mutlak," kata Andi Satya.

Baca Juga: DPRD Kaltim Beri Waktu Satu Bulan, RSUD AWS Samarinda Wajib Lakukan Audit Medis Kasus Luka Infus Balita

Kasus ini mencuat setelah seorang balita dilaporkan mengalami pembengkakan hebat pada tangan usai menjalani tindakan pemasangan infus. DPRD menyebut kedatangannya ke rumah sakit untuk memastikan duduk perkara secara utuh. "Kami datang untuk tabayun, mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya," ujarnya.

Meski demikian, DPRD mengingatkan bahwa penetapan malapraktik tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Dalam praktik medis, terdapat risiko tindakan yang bisa muncul tanpa unsur kelalaian. "Pemasangan infus bisa saja menimbulkan pembengkakan atau flebitis, itu termasuk risiko medis. Malapraktik terjadi apabila ada kelalaian, misalnya pasien tidak dimonitor dengan baik," katanya.

Karena itu, DPRD meminta audit medis dilakukan secara menyeluruh dan hasilnya disampaikan secara tertulis kepada Komisi IV DPRD Kaltim dan Dewan Pengawas rumah sakit paling lambat satu bulan. "Kami meminta rumah sakit segera melakukan audit medis dan melaporkan hasilnya secara tertulis," tegasnya. Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kaltim juga turun tangan melakukan pendalaman. Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan hingga kini belum ada kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan malapraktik.

Baca Juga: Bayi di RSUD AWS Alami Phlebitis Usai Infus, Dinkes Kaltim Belum Simpulkan Adanya Malapraktik

"Belum ada kesimpulan ini malapraktik, karena kami belum menerima laporan secara rinci. Nah, apakah ini malapraktik atau bukan, masih didalami," ujar Jaya, Rabu (8/4/2026). Ia menyebut, manajemen RSUD AWS diwajibkan menyampaikan laporan tertulis secara komprehensif sebagai dasar evaluasi lebih lanjut. Sementara itu, kondisi pasien menjadi perhatian utama. Balita tersebut kini kembali menjalani perawatan intensif setelah sebelumnya sempat dipulangkan.

"Pasiennya sudah kembali dirawat karena tangannya seperti melepuh setelah sempat dipulangkan," jelasnya. Penelusuran awal menunjukkan adanya infeksi pada bekas pemasangan infus. Dalam istilah medis, kondisi tersebut dikenal sebagai flebitis, yakni peradangan pada pembuluh darah yang dapat memicu luka di area pemasangan infus. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#audit medis #luka infus balita #RSUD AWS Samarinda