SAMARINDA — Nama El’s Music Course kian diperhitungkan. Kursus musik piano lokal yang dilahirkan oleh Monyta Chrisanti Fransisca ini berhasil mengantarkan murid-muridnya menembus ajang internasional, dari Singapura hingga Shanghai.
Perempuan yang karib disapa Sisca tersebut telah mengabdikan diri di dunia musik sejak 2012, tepat setelah menyelesaikan pendidikan musiknya di Jogjakarta.
“Awalnya saya hanya mengajar piano. Tapi semakin ke sini, saya jatuh cinta dengan proses melihat anak-anak berkembang,” ujarnya kepada Kaltim Post, Kamis (9/4).
Selama hampir 14 tahun, Sisca membangun El’s Music Course dari nol. Mulai dari mengajar dari satu pintu ke pintu yang lain, sempat juga membuka kelas di sekolah, hingga akhirnya memiliki tempat kursus sendiri sejak 2022.
Kini, El’s Music Course memiliki sekitar 120 murid aktif dengan lima mentor yang membantu proses pembelajaran. Perjalanan panjang itu kini membuahkan hasil. Tak hanya Sisca yang meraih penghargaan Best Teacher Award di ajang International Music & Performing Arts Festival (IMPAF) 2025 di Bali, murid-muridnya pun menorehkan prestasi gemilang.
Salah satu yang terbaru, dua murid El’s Music Course berhasil meraih Distinction Award dan High Distinction Award dalam Shanghai Performing Arts Festival yang digelar awal April 2026.
Ajang tersebut bukan kompetisi biasa. Final diikuti peserta dari berbagai negara Asia seperti Hong Kong, Makau, Singapura, Thailand, hingga Malaysia. “Untuk bisa ke Shanghai, mereka harus lolos seleksi di Indonesia dulu. Hanya juara yang bisa lanjut ke final,” jelas Sisca.
Tak berhenti di situ, satu murid lainnya juga berhasil meraih juara pertama kategori usia 5–6 tahun dalam The Champion Universal Music Festival di Singapura pada akhir 2025.
Bagi Sisca, musik bukan hanya soal kemampuan bermain alat musik. Lebih dari itu, ia melihat musik sebagai sarana pembentukan karakter anak. “Di musik, anak belajar disiplin, konsistensi, kerja keras, bahkan mengontrol emosi saat tampil di panggung. Itu yang tidak semua didapat dari akademik,” tuturnya.
Namun, ia mengakui masih banyak orang tua yang memandang musik sebagai kegiatan sekunder dibanding pelajaran sekolah.
Padahal, menurutnya, banyak orang tua yang diam-diam berharap anaknya mampu bersaing hingga tingkat internasional melalui jalur non-akademik seperti musik.
Di Samarinda sendiri, minat terhadap musik, khususnya piano, dinilai cukup baik. Meski begitu, Sisca menilai dukungan terhadap ekosistem musik masih terbatas. “Kompetisi di sini masih sangat sedikit. Paling setahun sekali, itu pun baru ada beberapa tahun terakhir,” katanya.
Kondisi itu membuatnya aktif membawa murid mengikuti lomba di luar daerah hingga luar negeri. Dalam tiga tahun terakhir, El’s Music Course rutin mengirim perwakilan ke Bali, bahkan tahun ini menargetkan 10 peserta.
Dengan biaya kursus mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per bulan untuk empat kali pertemuan, Sisca berupaya tetap menjaga kualitas pembelajaran.
“Harapan saya, pemerintah bisa lebih mengapresiasi sekolah musik lokal. Kami ini bukan franchise, tapi dibangun oleh anak daerah yang ingin membawa nama Kaltim ke dunia,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki