SAMARINDA - UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menggelar sidang senat terbuka dalam rangka pengukuhan Prof Dr Khojir MSI sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan Islam multikultural di Auditorium 22 Dzulhijjah, Jumat (17/4).
Melalui pengukuhan ini, Prof Khojir resmi menjadi guru besar ke-17 UINSI. Saat ini UINSI Samarinda memiliki 12 guru besar yang masih aktif dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Dalam pidato pengukuhannya bertajuk Pesantren: Laboratorium Multikulturalisme dan Toleransi, Prof Khojir menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial di tengah menguatnya tantangan keberagaman dan arus globalisasi. “Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang hidup yang menumbuhkan nilai toleransi, dialog, dan harmoni sosial,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan Islam saat ini masih diwarnai kecenderungan pembelajaran yang bersifat tekstual dan belum sepenuhnya menyentuh realitas sosial. Kondisi ini dinilai berpotensi melahirkan cara pandang keagamaan yang sempit dan kurang adaptif terhadap keberagaman.
Sebagai solusi, Prof Khojir menawarkan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan nilai agama dengan budaya, tradisi, dan praktik sosial masyarakat. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan sikap toleransi santri secara signifikan, baik dari aspek pengetahuan maupun keterbukaan dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar sebagai agen perdamaian, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat, termasuk dengan hadirnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim.
“Pesantren harus mampu menjembatani antara agama, tradisi, dan modernitas. Dengan begitu, santri tidak hanya religius, tetapi juga toleran dan adaptif terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Rektor UINSI Samarinda, Prof Dr Zurqoni MAg menyampaikan bahwa pengukuhan guru besar merupakan langkah strategis dalam memperkuat kontribusi keilmuan perguruan tinggi keagamaan Islam di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Beliau menegaskan bahwa pesantren sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter moderat dan toleran, sekaligus menjadi ruang sosial yang menumbuhkan kesadaran multikultural melalui interaksi santri dari berbagai latar belakang.
Rektor juga menyoroti bahwa masyarakat kini semakin selektif terhadap lembaga pendidikan pesantren, dengan ekspektasi yang tidak hanya pada penguatan nilai keagamaan, tetapi juga integrasi dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan praktis.
“Prof Khojir diharapkan dapat mengawal dan memberi kontribusi pemikiran dalam pengembangan model integratif pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal yang diyakini mampu membentuk karakter multikultural santri,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa pesantren saat ini berada dalam fase transisi dari lembaga tradisional menuju institusi pendidikan yang adaptif, terbuka, dan profesional.
Melalui pengukuhan ini, UINSI menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi madrasah dan pesantren, sekaligus berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang inklusif, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat. (adv/kh)
Editor : Sukri Sikki