KALTIMPOST.ID-Kinerja industri batu bara Indonesia tengah berada di titik krusial. Di satu sisi, perlambatan ekonomi global menekan permintaan. Namun di sisi lain, dinamika geopolitik justru membuka peluang lonjakan harga dan ekspor.
Ekonom senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Azhari Novy Sucipto menilai kondisi itu sebagai fase persimpangan bagi komoditas andalan tersebut.
“Ekonomi global saat ini berada dalam fase yang kerap disebut sebagai the great exhaustion. Pertumbuhan masih berjalan, tetapi melambat dibandingkan periode pascapandemi,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Ovy itu menjelaskan, sejumlah lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 hanya sekitar 3,3 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan capaian beberapa tahun sebelumnya.
Perlambatan tersebut dipicu berbagai faktor. Mulai dari fragmentasi geo-ekonomi akibat rivalitas dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik Rusia–Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan moneter ketat di negara maju turut menekan likuiditas global.
Dampaknya terlihat pada kinerja perdagangan dunia yang mulai kehilangan momentum. Pertumbuhan perdagangan global tercatat melambat, yang berimbas langsung pada permintaan energi, termasuk batu bara.
“Permintaan batu bara sangat bergantung pada aktivitas ekonomi global. Ketika ekonomi melambat, kebutuhan energi primer otomatis ikut terkoreksi,” jelas Ovy.
Data perdagangan menunjukkan volume batu bara global mengalami penurunan pada 2025. Hal ini menandakan adanya normalisasi permintaan setelah periode lonjakan yang terjadi sebelumnya.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan langkah antisipatif dengan menyesuaikan rencana produksi nasional. Dalam dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, produksi batu bara ditargetkan sekitar 600 juta ton, turun signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton.
Menurut Ovy, kebijakan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan pasar. “Itu bagian dari strategi rebalancing market. Ketika ada potensi oversupply, produksi perlu dikendalikan agar harga tetap berada pada level yang ekonomis bagi produsen,” katanya.
Selain faktor siklus ekonomi, ia menyoroti perubahan struktural di pasar global. Produksi domestik batu bara di Tiongkok dan India terus meningkat. Sementara pengembangan energi baru terbarukan mulai menahan laju permintaan batu bara.
Baca Juga: Polsek Jempang Tangkap Pengedar Sabu-Sabu di Kampung Mancong Kubar, Sita 7 Paket dan Uang Tunai
Kondisi tersebut membuat pasar batu bara tidak lagi berada dalam fase ekspansi kuat, melainkan memasuki fase penyesuaian. Salah satu indikatornya adalah penurunan harga batu bara acuan global sepanjang 2025.
Namun, di tengah tren pelemahan itu, dinamika geopolitik kembali mengubah arah pasar energi dunia. Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan minyak dan gas.
“Ketika risiko geopolitik meningkat, pasar energi biasanya bereaksi cepat. Ini yang kita lihat sekarang, harga batu bara kembali mengalami kenaikan,” ungkap Ovy.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga batu bara global bergerak naik ke kisaran USD 120–130 per ton. Kenaikan itu juga dipicu fenomena gas-to-coal switching, yakni peralihan penggunaan energi dari gas ke batu bara akibat lonjakan harga gas.
Fenomena tersebut berpotensi meningkatkan permintaan batu bara global dalam jangka pendek. Bagi Indonesia, situasi ini membuka peluang windfall dari sisi ekspor.
Ovy mencontohkan pengalaman tahun 2022, ketika konflik Rusia–Ukraina memicu krisis energi di Eropa. Saat itu, ekspor batu bara Indonesia melonjak signifikan.
“Momentum seperti ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat kinerja ekspor. Tapi perlu diingat, sifatnya biasanya tidak berlangsung lama,” tegasnya.
Ia mengingatkan, lonjakan ekspor juga harus diimbangi dengan pengamanan pasokan domestik. Dalam hal ini, kebijakan domestic market obligation (DMO) tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga kebutuhan energi dalam negeri.
Dari sisi makroekonomi, peningkatan ekspor batu bara berpotensi memberikan dampak positif. Tambahan devisa dapat membantu memperbaiki neraca transaksi berjalan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Ovy menekankan pentingnya pengelolaan yang bijak di tengah fluktuasi pasar.
“Batu bara saat ini berada di persimpangan antara tekanan siklus ekonomi dan dorongan geopolitik. Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang tanpa mengabaikan ketahanan energi dan keberlanjutan jangka panjang,” ucapnya.
Lantas bagaimana dampaknya ke Kaltim? Ovy menjelaskan, merujuk pada pengalaman 2022, disrupsi pasokan energi global, khususnya pada komoditas minyak dan gas turut mendorong peningkatan permintaan terhadap batu bara sebagai sumber energi substitusi.
Fenomena itu tercermin jelas di daerah penghasil utama seperti Kaltim. Nilai ekspor batu bara provinsi tersebut pada periode itu meningkat signifikan, tercatat tumbuh sekitar 55,71 persen (yoy) dengan total nilai mencapai sekitar USD 27 miliar.
“Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa dinamika pasar energi global dapat dengan cepat ditransmisikan ke kinerja ekspor daerah berbasis komoditas,” ulasnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, di mana harga batu bara mulai mengalami kenaikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, potensi penguatan ekspor serupa tetap terbuka pada 2026, meskipun sangat bergantung pada durasi tekanan di pasar energi global.
“Ke depan, Kaltim memiliki peluang untuk kembali memanfaatkan momentum penguatan harga dan permintaan batu bara tersebut,” katanya.
Namun demikian, Ovy mengingatkan, optimalisasi peluang ini perlu tetap diimbangi dengan pengelolaan yang prudent, khususnya dalam menjaga keberlanjutan pasokan domestik, stabilitas penerimaan daerah, serta ketahanan ekonomi jangka panjang di tengah volatilitas pasar komoditas global. (rd)
Editor : Romdani.