Apa yang memotivasi Anda dari sepak terjang Kartini?
Dari Kartini, saya belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian menyuarakan gagasan, meskipun dalam keterbatasan.
Mengapa memilih jalan berpolitik?
Saya memilih jalan berpolitik karena meyakini bahwa melalui politik kita bisa membantu lebih banyak orang.
Bagaimana membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, terutama saat harus ke konstituen? Apa tantangannya?
Membagi waktu antara keluarga dan tugas sebagai senator membutuhkan komitmen dan kedisiplinan tinggi. Saya berusaha menempatkan keduanya secara seimbang.
Saat bekerja, saya fokus menjalankan amanah masyarakat. Saat bersama keluarga, saya hadir secara utuh sebagai seorang ibu. Tantangannya, suami saya juga seorang kepala daerah, sehingga waktu kebersamaan menjadi terbatas.
Baca Juga: Wartawan 60 Tahun ke Atas
Bagaimana anak muda merefleksikan Hari Kartini saat ini?
Anak muda perlu menyadari bahwa kita semua bisa menjadi “Kartini masa kini” melalui semangat belajar, berpikir kritis, dan berkontribusi nyata bagi bangsa.
Apakah kini semakin banyak perempuan tangguh?
Ya, saya melihat semakin banyak perempuan tangguh di berbagai sektor. Itu menunjukkan kesadaran perempuan untuk mandiri dan kuat secara ekonomi semakin meningkat.
Anda dinilai sebagai salah satu perempuan berpengaruh di Kaltim. Apa kontribusi yang telah dilakukan?
Sebagai anggota DPD RI di Komite IV, saya berkomitmen memperjuangkan hak daerah, khususnya dalam kebijakan keuangan. Salah satunya melalui audiensi dengan Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu terkait kekurangan bayar dana bagi hasil (DBH) Kaltim tahun 2023. Hasilnya, pada 2025 Kaltim menerima pencairan DBH sekitar Rp 906,9 miliar.
Apa yang belum terwujud dan akan diperjuangkan ke depan?
Saya bersyukur atas capaian yang ada. Ke depan, saya akan terus berupaya memberikan yang terbaik dan mengikuti proses yang berjalan.
Apa persoalan mendasar yang dihadapi Kaltim?
Ketidakseimbangan antara potensi dan manfaat yang diterima masyarakat. Kaltim kaya sumber daya alam, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan daerah karena masih kuatnya sentralisasi keuangan.
Bagaimana kondisi tenaga kerja perempuan di Kaltim?
Partisipasi perempuan meningkat, tetapi belum ideal. Masih ada kesenjangan dalam akses pekerjaan layak, perlindungan tenaga kerja, dan kesempatan menduduki posisi strategis. (rd)
Editor : Romdani.