Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dilema Petani Kaltim: Harga Jual Naik Tipis, Biaya Hidup dan Modal Justru Melambung

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 22 April 2026 | 18:54 WIB
PENGELUARAN: Meski harga hasil pertanian naik tipis, beban pengeluaran petani justru meningkat baik dari sisi produksi maupun konsumsi rumah tangga.
PENGELUARAN: Meski harga hasil pertanian naik tipis, beban pengeluaran petani justru meningkat baik dari sisi produksi maupun konsumsi rumah tangga.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kenaikan harga hasil pertanian di Kalimantan Timur pada Maret 2026 terbilang tipis. Di saat yang sama, beban pengeluaran petani justru mengalami peningkatan lebih tinggi. Terdapat tekanan yang masih dirasakan petani, baik dari sisi produksi maupun konsumsi rumah tangga.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada Maret 2026 yaitu 186,71. Artinya, secara rata-rata harga produksi pertanian naik 86,71 persen dibandingkan tahun dasar 2018.

Ketua Tim Distribusi Statistik BPS Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut hanya terjadi secara sangat tipis dibandingkan bulan sebelumnya. “Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 0,01 persen dibandingkan dengan Februari 2026,” ujarnya.

Baca Juga: Turun Tipis 0,72 Persen, Daya Beli Petani Kaltim Tetap Tinggi di Level 148

Jika dilihat lebih rinci, pergerakan It antar subsektor cukup bervariasi. Tiga subsektor mengalami kenaikan, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada hortikultura 3,62 persen. Disusul subsektor peternakan yang naik 2,20 persen, serta perikanan 1,25 persen.

Sebaliknya, dua subsektor lainnya justru mengalami penurunan. Tanaman pangan turun 0,27 persen, sementara tanaman perkebunan rakyat mencatat penurunan lebih dalam, yakni 1,05 persen.

Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru menunjukkan kenaikan yang lebih signifikan. Pada Maret 2026, Ib tercatat 126,15 atau naik 0,74 persen dibandingkan Februari 2026.

Terdapat peningkatan pengeluaran petani, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun biaya produksi. “Berdasarkan kelompok penyusunnya, nilai indeks konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan 0,88 persen, sementara indeks BPPBM mengalami kenaikan 0,39 persen,” jelasnya.

Seluruh subsektor tercatat mengalami kenaikan Ib. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,82 persen. Kemudian diikuti hortikultura 0,79 persen, tanaman pangan 0,71 persen, perikanan 0,67 persen, dan peternakan 0,55 persen.

Meskipun harga jual hasil pertanian relatif stabil, biaya yang harus dikeluarkan petani justru meningkat. Dengan kata lain, daya beli petani berpotensi tertekan apabila tren berlanjut. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#petani kaltim #Pertanian Kaltim