KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Kondisi kesehatan Benjamin Netanyahu menjadi sorotan di tengah memanasnya situasi politik Israel jelang pemilu 2026.
Perdana Menteri berusia 76 tahun itu mengungkapkan dirinya didiagnosis mengidap kanker prostat. Temuan tersebut berasal dari pemeriksaan medis terbaru yang menunjukkan adanya tumor ganas berukuran kecil, kurang dari satu sentimeter.
Meski begitu, Netanyahu menegaskan kondisinya masih terkendali dan ia tetap menjalani aktivitas kenegaraan. Ia juga diketahui telah menjalani prosedur medis sebelumnya terkait pembesaran prostat pada akhir 2024.
Baca Juga: Update Klasemen Moto3 2026: Veda Ega Tembus 6 Besar, Quiles Masih Tak Tersentuh
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengaku sempat menunda publikasi laporan kesehatannya selama beberapa waktu. Alasannya, ia tidak ingin kondisi tersebut dimanfaatkan pihak luar, termasuk lawan politik maupun negara lain, sebagai bahan propaganda.
Pihak kantor Perdana Menteri turut merilis keterangan resmi dari tim dokter yang menangani Netanyahu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa proses perawatan masih berlangsung dan terus dipantau secara intensif.
Di tengah pengobatan yang dijalani, Netanyahu memastikan dirinya tetap siap memimpin dan maju dalam pemilu mendatang. Namun, isu kesehatan ini diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi persepsi publik terhadap kepemimpinannya.
Baca Juga: Fakta Baru Penembakan di Acara Trump: Pelaku Bawa Shotgun, Pistol, dan Pisau
Lawan Politik
Peta politik Israel menjelang pemilu akhir tahun mulai memanas. Dua tokoh oposisi, Yair Lapid dan Naftali Bennett, sepakat bersatu untuk menghadapi petahana, Benjamin Netanyahu.
Lapid mengumumkan bahwa partainya, Yesh Atid, akan digabung dengan kubu Bennett dalam satu kendaraan politik baru.
Koalisi ini ditargetkan menjadi kekuatan utama untuk menantang dominasi Netanyahu pada pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang.
Dalam pernyataannya di media sosial, Lapid menyebut langkah tersebut sebagai upaya menyatukan “blok perubahan” demi membawa Israel keluar dari krisis politik yang berkepanjangan. Ia menegaskan, fokus utama koalisi ini adalah pemulihan negara.
Keduanya dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Netanyahu, terutama terkait konflik berkepanjangan di Gaza sejak 2023.
Bahkan, Lapid sempat menyebut kebijakan gencatan senjata dengan Iran sebagai keputusan yang merugikan secara politik.
Secara latar belakang, Bennett dikenal sebagai politikus sayap kanan dengan basis kuat di kalangan pendukung permukiman Israel di Tepi Barat.
Baca Juga: Klasemen MotoGP 2026 Terbaru Usai Jerez: Bezzecchi Masih di Puncak, Alex Marquez Naik Drastis
Sementara Lapid berada di spektrum tengah dan pernah memimpin pemerintahan koalisi pada 2021 sebelum akhirnya tumbang pada 2022.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan Bennett menjadi figur paling potensial untuk mengalahkan Netanyahu. Pengalamannya sebagai mantan perwira elite militer dan pengusaha teknologi dinilai menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi pemilih muda.
Editor : Uways Alqadrie