KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kotoran sapi yang dulu hanya dibuang atau dibiarkan mengering, kini diolah menjadi sumber energi sekaligus pupuk. Pemanfaat energi altermatif ini secara perlahan ditemukan bentuknya di Kalimantan Timur; digadang-gadang bisa menggantikan peran elpiji untuk kebutuhan sehari-hari.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim mendorong penggunaan biogas sebagai bagian dari upaya penghematan energi sekaligus transisi menuju energi bersih. Program ini disebutnya menyasar masyarakat yang memiliki ternak, terutama sapi, dengan memberikan bantuan instalasi biogas skala rumah tangga hingga kelompok.
Manfaatnya sudah mulai dirasakan. Sejumlah kelompok tani di berbagai daerah di Kaltim kini bisa mengurangi ketergantungan pada elpiji Mereka memanfaatkan gas hasil olahan limbah ternak untuk memasak, sekaligus mendapatkan produk sampingan berupa pupuk organik.
Baca Juga: Cadangan Gas 7 Triliun Kaki Kubik Ditemukan di Lepas Pantai Kaltim, Dinas ESDM Minta Jatah Kelola
Analis Kebijakan Ahli Muda Dinas ESDM Kaltim, Sonny Widyagara mengatakan, program ini sejalan dengan target penurunan emisi karbon menuju nol emisi pada 2060, sebagaimana komitmen dalam Paris Agreement.
Untuk mewujudkan itu, diperlukan dorongan nyata agar masyarakat semakin sadar pentingnya penghematan energi. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan bantuan instalasi biogas. "Jadi, untuk masyarakat yang punya ternak sapi di rumah, kita bisa bantu instalasi biogas supaya bisa menggantikan elpiji," kata Sonny, Sabtu (25/4/2026).
Di lapangan, keberadaan instalasi biogas kerap memicu efek berantai. Warga di sekitar lokasi biasanya mulai tertarik setelah melihat langsung manfaatnya. Jadi tak jarang, mereka kemudian mengajukan permohonan bantuan serupa.
Dinas ESDM Kaltim, kata Sonny, berupaya mengakomodasi permintaan tersebut, meski tetap disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah. Sejauh ini, tercatat sudah ada 575 unit instalasi biogas yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Program ini mulai dijalankan sejak sekitar 2011 dan terus berkembang, menjangkau wilayah seperti Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, hingga Kutai Barat.
Baca Juga: Kaltim Garap Proyek PSEL: Sampah Samarinda dan Balikpapan Bakal Disulap Jadi Energi Listrik
"Kalau hampir semua kabupaten sudah, mungkin yang belum itu Mahakam Ulu," ujar Sonny. Pada awal pelaksanaannya, program ini sempat didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat. Namun setelah skema pendanaan tersebut berhenti pada 2017, Pemprov Kaltim tetap melanjutkan program secara mandiri melalui APBD.
Pelaksanaannya juga disinergikan dengan program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) dari Dinas Peternakan. Selain menghemat biaya energi, biogas juga memberi nilai tambah ekonomi. Limbah hasil pengolahan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, yang dapat digunakan sendiri atau dijual.
Kendati begitu, pelaksanaan program ini bukan tanpa kendala. Salah satu tantangan yang kerap muncul adalah keberlanjutan pasokan bahan baku. Ketika pemilik menjual ternaknya, produksi biogas otomatis terhenti.
"Ada momen ketika sapi dijual, itu jadi kendala. Makanya kita rutin melakukan monitoring setiap tahun ke penerima bantuan," kata Sonny. Secara teknis, instalasi biogas skala rumah tangga membutuhkan minimal dua ekor sapi, dengan biaya pembangunan berkisar Rp 27 juta hingga Rp 30 juta.
Sementara untuk skala kelompok tani, anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 90 juta, dengan kapasitas distribusi gas hingga 10 rumah. Dengan skema ini, pemerintah daerah berharap masyarakat tidak hanya menghemat pengeluaran energi, tetapi juga secara bertahap beralih dari LPG ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
"Kita berharapnya masyarakat bisa pensiun dari LPG. Gasnya terpenuhi, pupuknya juga bisa dimanfaatkan," ungkapnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki