KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (28/4/2026), dipicu memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan tidak puas dengan proposal damai terbaru dari Teheran. Kondisi ini membuat jalur negosiasi kedua negara masih menemui jalan buntu.
Mengacu data pasar, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juni naik 0,4 persen ke level US$108,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,6 persen menjadi US$96,96 per barel.
Baca Juga: Update Tabrakan Kereta Bekasi Timur: 7 Tewas, 81 Luka, Kronologi KA Argo Bromo Hantam KRL
Ketegangan ini berdampak langsung pada distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi di kawasan tersebut masih belum stabil. Iran dilaporkan tetap membatasi aktivitas pelayaran, sementara sejumlah kapal tanker bahkan terpaksa berbalik arah akibat blokade yang terjadi.
Analis pasar menilai, saat ini pelaku pasar lebih menaruh perhatian pada kelancaran pasokan fisik minyak ketimbang pernyataan politik. Pasalnya, gangguan distribusi di jalur utama seperti Selat Hormuz berpotensi menekan suplai global dalam waktu cepat.
Baca Juga: Update Kecelakaan KA Bekasi Timur: Identitas Sementara Korban Tewas dan Dirawat
Meski ada peluang tercapainya kesepakatan damai, pemulihan distribusi minyak diperkirakan tidak bisa instan. Faktor perizinan produksi hingga kendala logistik diprediksi membuat proses normalisasi membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Editor : Uways Alqadrie