KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Maraknya kasus kekerasan dan kelalaian di daycare yang belakangan viral memicu kekhawatiran luas di kalangan orang tua. Dari sudut pandang psikologi, fenomena tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai kesalahan individu, tetapi juga cerminan lemahnya sistem pengasuhan.
Psikolog Klinis sekaligus Founder Matavhati Islamic Daycare, Yulia Wahyu Ningrum, menilai kasus-kasus tersebut menjadi alarm penting bagi semua pihak.
“Fenomena maraknya pemberitaan negatif tentang daycare ini tentu menjadi perhatian bersama, terutama bagi orang tua. Dari sudut pandang psikologi, hal ini menunjukkan bahwa kita perlu meningkatkan standar pengasuhan berbasis keamanan emosional dan fisik anak di semua lembaga pengasuhan,” ujarnya.
Namun dia menegaskan, kasus yang muncul tidak bisa digeneralisasi ke seluruh daycare. Menurutnya, banyak lembaga yang tetap menjalankan praktik pengasuhan sehat dan aman. “Kasus-kasus yang muncul adalah oknum yang usahanya hanya money/profit oriented (tidak berdasarkan hati) dan tidak bisa digeneralisasi ke seluruh daycare,” tegasnya.
Baca Juga: Nasibnya Bergantung Hasil Akhir, Leonard Tupamahu Akui Masih Ingin di Persiba
Dari sisi psikologis, praktik kekerasan seperti mengikat anak atau memberi obat agar tenang merupakan bentuk pengasuhan yang menyimpang dari prinsip perkembangan anak.
Yulia menjelaskan, anak usia dini memang berada pada fase aktif dan eksploratif. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan, bukan pengekangan. “Anak usia dini memang secara alami aktif, eksploratif, dan belum mampu mengontrol diri sepenuhnya. Justru di fase ini, mereka membutuhkan pendampingan, bukan pembatasan yang bersifat fisik atau penekanan secara kimiawi,” lanjutnya.
Lebih jauh, praktik tersebut berpotensi mengganggu perkembangan emosi anak serta rasa aman yang menjadi fondasi kepercayaan mereka terhadap lingkungan.
Yulia juga menekankan bahwa akar masalah sering kali berasal dari ketidaksiapan sistem, bukan semata perilaku individu. “Biasanya, praktik-praktik seperti ini muncul ketika ada ketidaksiapan sistem, misalnya rasio pengasuh dan anak yang tidak ideal, kurangnya pemahaman tentang perkembangan anak, atau tekanan kerja yang tinggi,” paparnya.
Baca Juga: Menghidupkan Hari Belajar Guru: Momentum Refleksi bagi Kalimantan Timur
Karena itu, dia mendorong adanya evaluasi menyeluruh, mulai dari proses rekrutmen pengasuh hingga sistem pengawasan dan transparansi. “Sebagai psikolog, saya melihat ini sebagai momentum refleksi bagi semua pihak, untuk memperkuat sistem, mulai dari seleksi caregiver, pelatihan regulasi emosi, hingga pengawasan dan transparansi kepada orang tua,” tandasnya.
Dia menegaskan, daycare seharusnya bukan sekadar tempat menitipkan anak, melainkan ruang tumbuh yang aman secara emosional. “Daycare yang baik bukan hanya tempat menitipkan anak, tetapi menjadi ruang tumbuh yang aman secara emosional,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo