KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan penitipan anak, pengelola daycare menghadapi tantangan menjaga kualitas pengasuhan. Salah satu strategi yang diterapkan adalah pembatasan jumlah anak agar tetap terpantau optimal.
Seperti di Matavhati Islamic Daycare Samarinda, kapasitas maksimal ditetapkan hanya 26 anak. Pembatasan itu bukan tanpa alasan. Meski secara ruang dinilai masih mampu menampung lebih banyak anak, aspek pengawasan menjadi pertimbangan utama.
“Untuk ruangan sebenarnya bisa cukup banyak sih, bahkan bisa sampai 50-an anak itu cukup saja. Cuman kan dari uminya (pengasuh) pasti susah untuk mengawasi, mau menambah umi juga enggak bisa, jadi fokusnya supaya enggak terlalu padat,” jelas Koordinator Egha Larasati.
Baca Juga: Transparansi Jadi Kunci, Daycare Ini Buka Akses CCTV dan Laporan Harian
Saat ini, daycare tersebut memiliki lima pengasuh. Mereka bertanggung jawab terhadap bayi hingga anak usia 4,5 tahun. “Saat ini untuk usia bayi itu ada 2 orang, sisanya toddler. Kalau khusus bayi, 1 umi pegang maksimal 2 bayi, kalau toodler itu 4-6 anak,” paparnya.
Pembagian disesuaikan dengan kebutuhan anak. Bayi membutuhkan perhatian lebih intensif dibanding toddler yang sudah lebih mandiri. “Karena toddler sudah bisa mandiri ya, aktivitas sama teman sudah banyak,” tambahnya.
Tak hanya jumlah anak, kualitas pengasuh juga menjadi perhatian serius. Egha menegaskan bahwa seluruh pengasuh memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. “Untuk pengasuhnya sendiri itu khusus yang kebidanan atau keperawatan, enggak ada yang (lulusan) SMA,” tegasnya.
Selain seleksi ketat, pengasuh juga mendapatkan pelatihan rutin setiap bulan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengasuh anak. Sebab selain pola pengasuhan yang tepat, layanan di Matavhati juga meliputi baby spa.
Baca Juga: Viral Anak Diikat hingga Diberi Obat di Daycare, Psikolog Sebut Itu Pengasuhan Menyimpang
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap anak mendapatkan stimulasi sesuai tahap tumbuh kembangnya. “Untuk melatih sensorinya, motoriknya itu sudah terprogram, kegiatannya tiap hari beda-beda,” jelasnya.
Selain pengasuh internal, daycare juga bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan tumbuh kembang dilakukan secara berkala. “Untuk Puskesmas dia datang per 6 bulan, sekalian deteksi dini tumbuh kembang anak, pemberian vitamin A dan obat cacing,” katanya.
Sementara itu, kunjungan dokter anak dilakukan setahun sekali untuk screening kondisi anak secara menyeluruh. Dengan kombinasi pembatasan kapasitas, seleksi pengasuh, serta dukungan tenaga medis, daycare berupaya menjaga kualitas layanan di tengah tingginya kebutuhan masyarakat. “Pokoknya totalnya maksimal 26 anak itu sudah dipikirin banget,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo