KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Meningkatnya kasus kekerasan di daycare, termasuk yang baru-baru ini viral di Jogjakarta, menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem pengasuhan anak usia dini di Indonesia.
Di tengah sorotan tersebut, Regional Lead Kalimantan Tanoto Foundation Roselina Ping Juan menuturkan, program Rumah SIGAP dari Tanoto Foundation hadir sebagai model intervensi yang menekankan pengasuhan berbasis keluarga dan edukasi orang tua.
Dirinya menyampaikan bahwa pendekatan pengasuhan harus berlandaskan pada Nurturing Care Framework (NCF) yang dikembangkan oleh WHO. Kerangka ini mencakup lima aspek utama, yakni kesehatan, nutrisi, keamanan, pengasuhan responsif, serta kesempatan belajar dini.
“Lingkungan anak harus memenuhi lima kebutuhan dasar tersebut agar tumbuh kembangnya optimal. Kasus daycare yang terjadi menunjukkan bahwa aspek keamanan dan pengasuhan responsif belum terpenuhi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa praktik pengasuhan represif seperti yang terungkap dalam kasus tersebut berpotensi mengganggu perkembangan otak anak, terutama pada usia emas 0–3 tahun. Pada fase ini, sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi, sehingga kualitas pengasuhan menjadi faktor krusial dalam menentukan masa depan anak.
Dalam implementasinya, Rumah SIGAP tidak hanya menyediakan ruang bermain, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi orang tua dan pengasuh. Program ini mencakup kelas bermain bersama berdasarkan kelompok usia, sesi edukasi tematik, serta pendampingan individual untuk memastikan perkembangan anak sesuai dengan milestone.
“Anak tidak ditinggalkan tanpa pengasuh utamanya. Kami ingin memastikan bahwa orang tua tetap menjadi aktor utama dalam pengasuhan, bukan sepenuhnya menyerahkan kepada lembaga,” sebutnya.
Dari sudut pandang pembangunan sumber daya manusia, pendekatan ini memiliki implikasi jangka panjang. Berdasarkan studi Heckman Curve, investasi pada pengasuhan dan stimulasi di usia dini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kualitas kognitif dan nonkognitif anak, yang pada akhirnya berpengaruh pada produktivitas ekonomi di masa depan.
Baca Juga: Dampak Psikis Kasus Daycare Jogja, Orangtua Diminta Lebih Kritis Memilih Layanan
Belajar dari kasus daycare di Jogjakarta, juga dinilai sebagai sinyal perlunya penguatan regulasi dan pengawasan. Tanoto Foundation menekankan pentingnya standar operasional yang jelas, pelatihan pengasuh, serta transparansi layanan sebagai syarat utama dalam industri penitipan anak.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk lebih kritis dalam memilih layanan daycare, mulai dari memastikan legalitas, kualifikasi tenaga pengasuh, hingga sistem keamanan seperti akses CCTV dan laporan perkembangan anak.
“Pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Orang tua, lembaga, dan pemerintah harus memastikan bahwa setiap anak mendapatkan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya,” tutup Ping.
Dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis empati, Rumah SIGAP membangun ekosistem pengasuhan anak dengan memberikan rasa aman. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo