Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

“Masa Sih Gara-Gara Sepatu Meninggal?” Kadisdikbud Kaltim Sebut Siswa Harusnya Bisa Manfaatkan Bosda, Bosnas, dan PIP

Nasya Rahaya • Minggu, 3 Mei 2026 | 19:21 WIB
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Armin. (Nasya/KP)
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Armin. (Nasya/KP)

SAMARINDA – Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Armin mempertanyakan kabar meninggalnya siswa SMKN 4 Samarinda yang ramai dikaitkan dengan persoalan sepatu kekecilan. Saat dimintai tanggapan, Armin menegaskan perlunya melihat persoalan secara lebih utuh, termasuk dari sisi komunikasi siswa dengan sekolah dan keluarga.

“Masa sih gara-gara sepatu meninggal?” kata Armin usai Sarasehan Pendidikan di Hotel Fugo Samarinda, Sabtu (2/5).

Pernyataan itu muncul ketika Kaltim Post menanyakan kasus Mandala, siswa SMKN 4 Samarinda, yang belakangan menjadi perhatian.

Menanggapi hal itu, Armin mengatakan jika persoalan sepatu atau perlengkapan sekolah memang menjadi kendala, seharusnya siswa maupun keluarga dapat menyampaikan kondisi tersebut lebih awal kepada sekolah.

Baca Juga: Kaltim Target Bebas Sekolah Rusak, Pembangunan dan RKB Dikebut Hingga 2027

“Kalau memang dia sepatunya kekecilan, mestinya disampaikan ke sekolah atau orang tua,” ujarnya.

Menurut Armin, sekolah maupun pemerintah sebenarnya memiliki sejumlah skema bantuan yang bisa dimanfaatkan, mulai dari Program Indonesia Pintar (PIP), Bosda, hingga Bosnas.

“Kan ada dana PIP, ada Bosda, ada Bosnas. Kalau hanya satu dua anak, mestinya kita bisa bantu,” katanya.

Ia menegaskan, kebutuhan dasar seperti sepatu atau seragam tidak semestinya menjadi penghalang siswa untuk tetap bersekolah. Bahkan, jika sekolah mengalami keterbatasan, Disdikbud Kaltim disebut siap turun tangan.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Ini Kesempatan Terakhir Siswa Ikut TKA Susulan Mei 2026

“Kalau sekolah enggak bisa bantu, datang ke dinas. Saya bantu kok,” ucapnya.

Armin juga meminta kasus tersebut menjadi evaluasi bagi seluruh sekolah di Kaltim agar lebih aktif mengetahui kondisi sosial dan ekonomi siswa, bukan hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar.

“Ke depan saya minta semua sekolah betul-betul mencari tahu apa kondisi anaknya,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya peran guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas dalam memantau kehidupan siswa sehari-hari, termasuk jika ada persoalan perlengkapan sekolah yang berpotensi menghambat pendidikan.

“Nah, itu tugasnya guru BK. Guru BK dan wali kelas harus tahu kondisi setiap anak,” katanya. Bagi Armin, sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk terbuka terhadap masalah yang dihadapi.

“Sekolah itu harus second home bagi anak, harus nyaman dan bisa curhat kepada gurunya,” ujarnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
#siswa SMKN Samarinda #sepatu kekecilan #kasus mandala #pip #bosda