KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Di tengah polemik anggaran laundry atau pencucian pakaian kepala daerah beserta fasilitas di kompleks kantor Gubernur Kaltim sebesar Rp 450 juta, nama Alwan Laundry ikut terseret ke ruang publik. Usaha laundry yang terletak di Jalan R. W. Monginsidi, Nomor 7, Kelurahan Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, itu mendadak menjadi sorotan setelah salah satu kwitansi pembayaran jasa mereka dipublikasikan Pemprov Kaltim dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu.
Kwitansi yang dijadikan bukti kepada awak media itu mencatat angka Rp 20 juta untuk pencucian taplak meja, seprai, bed cover, hingga perlengkapan rumah jabatan lainnya. Dikonfirmasi perihal kwitansi tersebut, Enny, Owner Alwan Laundry, menjelaskan bahwa tarif yang tercantum dalam kwitansi itu menyesuaikan jenis layanan ekspres dan pengantaran malam hari.
Kata dia, biaya akan berbeda dibanding laundry biasa karena pengerjaan dilakukan dalam waktu singkat. "Harga yang tercantum di kwitansi itu memang sesuai, karena menyesuaikan layanan ekspres dan pengantaran malam," katanya, Kamis (7/5/2026). Enny juga mengaku bahwa kerja sama dengan rumah jabatan Pemprov Kaltim sebenarnya sudah berlangsung sejak era penjabat gubernur sebelumnya (Pj Akmal Malik). Hubungan itu, kata dia, berlanjut hingga sekarang melalui koordinasi dengan Biro Umum Pemprov Kaltim.
"Kerja sama Alwan Laundry dengan rumah jabatan Pemprov Kaltim itu sudah dari zamannya Pak Pj, sampai sekarang masih berjalan. Komunikasinya lewat Biro Umum," ujarnya, Kamis (7/4/2026). Ia menjelaskan, usahanya bukan satu-satunya penyedia jasa laundry untuk rumah jabatan gubernur. Alwan Laundry lebih banyak menangani cucian taplak meja dan sarung kursi.
Meski begitu, dalam kondisi tertentu, cucian lain juga bisa dialihkan ke tempatnya apabila penyedia jasa lain tidak mampu menangani permintaan mendadak. Menurut dia, salah satu alasan rumah jabatan kerap menggunakan jasanya adalah layanan 24 jam yang tersedia di tempat usahanya. "Kalau ada kebutuhan mendadak dari rumah jabatan, ya tetap saya kerjakan. Biasanya itu ekspres. Ada yang tiga jam, ada yang enam jam," katanya.
Ia bercerita, tidak jarang cucian diambil atau diantar hingga larut malam bahkan dini hari. Kondisi itu biasanya terjadi setelah acara resmi selesai dan perlengkapan harus segera dipakai kembali keesokan harinya. "Pernah habis acara, taplak meja kotor langsung diambil malam itu juga karena besoknya mau dipakai lagi. Saya pernah antar cucian jam 10 malam, pernah juga jam 1 malam," tuturnya.
Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan menerima permintaan laundry hingga pukul tiga subuh. Cucian yang masuk pada jam-jam tersebut, kata dia, umumnya berkaitan dengan kebutuhan mendadak perjalanan dinas. "Kalau cucian dini hari itu kadang pakaian pribadi untuk kebutuhan keluar kota mendadak," ucapnya.
Jumlah cucian yang diterima juga disebut tidak menentu. Saat rumah jabatan menggelar banyak kegiatan atau menerima tamu, volume cucian bisa meningkat drastis. Kini, Alwan Laundry dijalankan bersama lima orang karyawan. Pemilik usaha itu mengaku kerja sama dengan Pemprov Kaltim cukup membantu keberlangsungan usahanya.
"Alhamdulillah kerja sama dengan Pemprov sangat membantu usaha kami. Namanya usaha ya disyukuri saja," ujarnya. Ia mengatakan awal mula kerja sama terjadi karena rumah jabatan membutuhkan jasa laundry pada malam hari, sementara penyedia lain tidak mampu melayani. Karena lokasi usahanya dekat dan mudah ditemukan lewat Google Maps, pihak rumah jabatan akhirnya menghubunginya. "Kalau ada permintaan mendadak, selama saya sanggup ya saya kerjakan," kuncinya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki