Ketua Komisi X DPR RI Minta Revitalisasi Sekolah di Kaltim Fokus pada Kualitas Pembelajaran dan Transformasi Pendidikan

Romdani. • Dipublikasikan Kamis, 7 Mei 2026 | 18:05 WIB
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian

KALTIMPOST.ID-Deretan ruang kelas di SMK 4 Balikpapan tampak lebih tertata dan nyaman. Namun, bagi Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, revitalisasi sekolah tidak cukup berhenti pada bangunan yang terlihat baru.

Di tengah perubahan besar Kaltim sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sekolah dituntut menjadi ruang tumbuh yang benar-benar mampu meningkatkan kualitas belajar siswa. 

Fasilitas yang layak, sanitasi yang baik, laboratorium yang memadai, hingga metode pembelajaran yang adaptif dinilai harus berjalan beriringan.

Pesan itu disampaikan Hetifah saat melakukan pengawasan Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2025 di Balikpapan, Rabu (6/5), di hadapan para guru, siswa, dan kepala sekolah penerima program.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: IKIP PGRI Ungkap Jumah Guru ASN di Kaltim Kurang, Imbas Efisiensi Anggaran, Kualitas Pendidikan di Tingkat Sekolah Teranca

Hetifah menilai keberhasilan revitalisasi sekolah harus diukur dari dampaknya terhadap proses belajar-mengajar. Bukan hanya dari tampilan bangunan yang lebih baik.

“Revitalisasi tidak boleh hanya diukur dari gedung yang lebih bagus. Ukurannya harus jelas, apakah siswa lebih nyaman belajar, guru lebih efektif mengajar, dan hasil belajar meningkat,” ujarnya.

Ia mengingatkan, banyak program pembangunan pendidikan pada masa lalu terlalu fokus pada aspek fisik tanpa diikuti perubahan kualitas pembelajaran. Padahal, infrastruktur dan peningkatan mutu pendidikan harus berjalan beriringan.

Program revitalisasi sekolah sendiri mencakup pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas, perbaikan toilet, penyediaan laboratorium dan ruang praktik, hingga peningkatan fasilitas perpustakaan serta sarana pendukung lainnya.

Menurutnya, fasilitas dasar seperti ruang belajar yang layak dan sanitasi yang baik merupakan syarat penting untuk menciptakan pendidikan berkualitas.

“Kita tidak bisa bicara kualitas kalau masih ada sekolah dengan toilet tidak layak atau ruang belajar yang tidak aman,” tegas politikus Partai Golkar itu.

Berdasarkan data Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2025, terdapat 286 satuan pendidikan di Kaltim yang menerima bantuan.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Capaian Pendidikan di Kaltim Dinilai Positif tapi Terdapat Dilema Besar antara Mengejar Pemerataan atau Meningkatkan Daya Saing

Program tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota dan mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMK.

Sebaran program dinilai strategis karena menjangkau wilayah penyangga IKN hingga daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan.

Meski demikian, Hetifah menekankan pentingnya pendekatan berbasis kebutuhan riil sekolah. Ia mengingatkan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai persoalan utama di lapangan.

“Sekolah yang kekurangan ruang kelas jangan justru mendapat fasilitas lain. Perencanaan harus berbasis kebutuhan,” kata wakil rakyat asal Kaltim itu.

Selain pembangunan fisik, ia juga mendorong peningkatan kapasitas guru dan pemanfaatan teknologi pembelajaran agar revitalisasi menjadi bagian dari transformasi pendidikan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah I Kaltim Winarno mengatakan program tersebut sangat membantu peningkatan sarana dan prasarana sekolah.

Sementara itu, Kepala SMK 4 Balikpapan Emilia Monalita menyebut revitalisasi yang diterima sekolahnya berdampak positif terhadap kenyamanan dan efektivitas pembelajaran.

Hetifah menegaskan pemerataan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas di tengah pembangunan IKN. Menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan lingkungan belajar yang layak dan kesempatan berkembang yang sama. (rd)

Editor : Romdani.
penajam paser utara transformasi pendidikan Ibu Kota Nusantara (IKN) hetifah sjaifudian Kutai Barat