KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Di tengah ancaman ketergantungan beras dari luar daerah, Bulog Kaltim-Kaltara kini berpacu mengejar gabah langsung dari tangan petani. Hingga Mei 2026, serapan gabah di wilayah ini telah menembus 13 ribu ton, lebih dari separuh target yang dibebankan Bulog pusat.
Pimpinan Wilayah Bulog Kaltim-Kaltara, Musazdin Said mengatakan, pihaknya mendapat target sekitar 23 ribu ton gabah kering panen (GKP) untuk diserap sepanjang tahun ini. "Realisasinya saat ini sudah kurang lebih 54 persen atau sekitar 13 ribu ton," kata Musazdin usai mendampingi kunjungan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Gerardus Budisatrio Djiwandono di gudang Bulog Kaltim-Kaltara, Samarinda, Jumat (8/5/2026).
Bulog, kata dia, masih akan memaksimalkan penyerapan gabah pada musim tanam kedua (MT2) yang dimulai Juli hingga akhir Desember 2026. Targetnya, capaian tahun lalu bisa kembali terulang. Pada 2025, Bulog Kaltim-Kaltara bahkan mencatat serapan hingga sekitar 200 persen dari target yang ditetapkan pusat.
Untuk mengejar target itu, Bulog kini mengandalkan pola jemput bola hingga ke desa-desa. Koordinasi dilakukan dengan dinas pertanian, penyuluh lapangan (PPL), untuk mendeteksi wilayah yang memasuki masa panen. Daerah seperti Paser, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara hingga Samarinda menjadi fokus utama karena memiliki tingkat produksi gabah cukup tinggi.
Musazdin menyebut, Bulog bahkan membentuk grup komunikasi khusus bernama 'Tim Jemput Pangan' yang melibatkan petugas lapangan dan aparat teritorial di daerah. Lewat pola itu, informasi panen bisa cepat diterima dan tim Bulog langsung turun menjemput gabah petani sebelum harga jatuh di tingkat bawah.
"Kami langsung arahkan ke mitra pengolahan untuk diproses menjadi beras," ujarnya. Tak hanya mengejar serapan, Bulog juga mulai memperluas infrastruktur penyimpanan pangan di sejumlah daerah di Kaltim dan Kaltara. Saat ini, Bulog disebut telah menyiapkan proses hibah lahan dan administrasi pembangunan gudang di Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Timur hingga Bontang.
Menurut Musazdin, Bontang berpotensi menjadi daerah pertama yang memulai pembangunan gudang pada 2026 karena status sertifikat lahannya telah memenuhi syarat administrasi atas nama Bulog. Selain di Kaltim, pembangunan gudang juga direncanakan di Nunukan dan Malinau, Kalimantan Utara, yang masih masuk wilayah layanan Bulog Kaltim-Kaltara.
Gudang-gudang itu nantinya tidak hanya digunakan menyimpan beras, tetapi juga komoditas strategis lain seperti gula pasir, minyak goreng premium hingga jagung pakan. Bulog berkeinginan keberadaan gudang baru bisa mempercepat intervensi pasar ketika harga pangan melonjak di daerah. "Gudang ini penting untuk menjaga cadangan pangan sekaligus mengintervensi inflasi harga di kabupaten dan kota," pungkas Musazdin. (riz)
Editor : Muhammad RizkiSumber : Kaltim Post