KALTIMPOST.ID-Di sebuah warung kecil di pinggir Jalan Akses Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau, Balikpapan Utara, tujuh orang tengah duduk.
Masing-masing menggenggam handphone sambil ditemani kopi di gelas plastik putih. Selain pemilik warung, mereka adalah para sopir truk yang sedang menunggu antrean bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Kilometer 13.
Jumat (8/5) sore itu, ketika awak Kaltim Post menghampiri, mereka bercerita, kondisi antrean sudah lebih baik pasca aksi sopir truk dan mahasiswa pada 4 Mei lalu di depan gedung DPRD Balikpapan.
“Hari pertama pas demo itu, SPBU langsung dibuka sampai jam 3 pagi. Antrean langsung berkurang drastis,” ucap Elfandry, sopir truk trailer.
Menurutnya, meski kondisinya lebih baik, namun belum maksimal. Karena sesuai tuntutan saat aksi, SPBU yang melayani bio solar alias solar subsidi bisa dibuka 24 jam.
Sementara kenyataannya, SPBU hanya bisa melayani maksimal hingga pukul 1 dini hari. Selain itu terkait kuota yang diperoleh untuk masing-masing kendaraan juga tidak ada perubahan.
“Jadi hari pertama itu saja SPBU buka sampai jam 3 pagi. Selebihnya buka hanya sampai jam 12-1 malam. Lalu kuota solar hanya dapat 120 liter sekali mengisi dalam sehari. Sementara di kartu itu jatahnya 200 liter. Makanya saya katakan belum maksimal,” jelas Elfandry.
Ditambahkan sopir truk trailer lainnya, Saefuddin mengakui jika jatah 120 liter per hari bagi kendaraan mereka tidak cukup untuk melakukan perjalanan jauh.
Para sopir menyebut, pekerjaan mereka yang harus mengantar muatan hingga ke Bontang dan Sangatta.
Sehingga mau tidak mau para sopir harus kembali mengantre di SPBU pada esok harinya untuk mengisi BBM. “Ke Bontang atau Sangatta itu kami perlu solar 350 liter. Jadi kalau mau jalan, kami harus antre dulu 3 hari biar cukup BBM-nya,” sebutnya.
Meski begitu, diakui para sopir kondisi antrean memang jauh lebih baik. Jika sebelum aksi, para sopir baru mendapatkan jatah kuota mereka setelah 3 hari mengantre, kini cukup sehari mengantre.
“Yang jelas tuntutan SPBU 24 jam belum dipenuhi dan kami masih menagih sisa ke mana 80 liter jatah yang sesuai sama barcode (kartu solar),” ungkap para sopir. (rd)
Editor : Romdani.