KALTIMPOST.ID-Media ini sempat mewawancarai sopir dump truk, Alnis. Dirinya menyebut, mengularnya antrean solar subsidi di SPBU Kilometer 13 dan SPBU Kilometer 15, dua SPBU yang melayani bio solar di Balikpapan dimulai sejak kenaikan harga yang signifikan pada dexlite pada 18 April lalu.
Sejak itu lanjutnya, banyak kendaraan besar yang sebelumnya mengonsumsi dexlite beralih ke bio solar.
“Banyak kendaraan perusahaan besar dan ekspedisi yang sebelumnya antre dexlite sekarang antre solar. Karena harganya beda jauh sejak ada kenaikan. Itu yang membuat antrean menumpuk bisa sampai 3 hari. Itu yang membuat sopir demo,” ujarnya.
Dari pengamatan Kaltim Post di lapangan dan menggunakan bantuan Google Maps pada Jumat (8/5) sore itu, antrean truk yang mengisi di SPBU Kilometer 13 mengular sepanjang 1,3 kilometer.
Antrean tidak dimulai di mulut SPBU. Melainkan diatur agak menjauh sekitar 500 meter mengarah ke pelabuhan peti kemas.
Para sopir menyebut, mereka sudah memegang kupon antrean. Disebut para sopir, jika sebelum demo, untuk antrean akan dibatasi 140 kupon dalam sehari. Sementara kini, mereka tidak tahu persis penambahan jumlah jatah antrean.
Namun perkiraan mereka bisa mencapai 200 unit yang bisa mengantre. Para sopir menyebut akan saling berkomunikasi jika sudah memasuki giliran memasuki SBPU. Tampak pula ada petugas SPBU yang hilir mudik memeriksa antrean truk.
“Jadi diatur untuk roda 4 itu bisa antre dekat SPBU. Kalau truk kecil (dump truk) seperti punya saya ini antrenya sebelah kiri (arah ke pelabuhan peti kemas). Kalau trailer itu antrenya sebelah kanan,” kata Alnis.
Pemandangan antrean truk di SPBU sudah terjadi bertahun-tahun. Seperti tidak ada solusi dari pemerintah. Terlebih banyak kendaraan plat luar Kaltim yang ikut mengonsumsi BBM bersubsidi.
Padahal provinsi ini adalah salah satu daerah penghasil energi terbesar di Indonesia. Layaknya ayam yang mati di lumbung padi. Tapi ini mati di lumbung energi. (rd)
Editor : Romdani.