KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Sepasang sepatu sekolah diduga menjadi awal petaka bagi Mandala Risky Syaputra, siswa kelas 2 SMK di Samarinda.
Remaja dari keluarga prasejahtera itu meninggal dunia pada Jumat (24/4/2026) setelah mengalami komplikasi kesehatan yang disebut bermula dari sepatu yang terlalu sempit untuk kakinya.
Kasus itu kini memantik perhatian serius Dinas Sosial Kaltim. Peristiwa meninggalnya Mandala dianggap menjadi alarm keras bahwa masih ada warga rentan yang luput dari pantauan bantuan sosial pemerintah.
Kepala Dinas Sosial Kaltim, Andi Muhammad Ishak, menegaskan pentingnya validitas data sosial agar bantuan benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan.
“Saya melihat memang inilah pentingnya data. Salah satu secara makronya, pentingnya data, sehingga bantuan-bantuan yang diberikan itu benar-benar bisa tepat pada sasaran,” ujar Andi, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Kronologi Meninggalnya Mandala Risky, Siswa SMKN 4 Samarinda Akibat Sepatu Kekecilan
Kata dia, kasus Mandala memperlihatkan masih adanya celah dalam sistem pemantauan warga prasejahtera di tingkat bawah.
Karena itu, Dinas Sosial meminta pemerintah kabupaten dan kota lebih aktif melakukan pendataan dan pengawasan kondisi masyarakat, terutama keluarga miskin yang memiliki anggota sedang sakit.
Andi berpandangan, aparat paling dekat dengan masyarakat itu dimulai dari desa, kelurahan, hingga ketua RT. Selama ini, kata dia, bantuan sosial berjalan berdasarkan usulan dari daerah. Artinya, warga yang tidak masuk pendataan berisiko tidak tersentuh bantuan pemerintah.
“Nah ini mungkin terlepas atau terlewatkan mereka-mereka ini dan kebetulan dalam kondisi sakit juga sehingga akhirnya mengakibatkan pada kematian yang bersangkutan,” katanya.
Ia kemudian mengimbau kepada masyarakat untuk tidak bersikap pasif ketika melihat tetangga atau keluarga di sekitar mereka mengalami kesulitan ekonomi maupun kesehatan.
Warga diharapkan segera melapor kepada RT atau pihak terkait agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Di sisi lain, keluarga yang merasa layak menerima bantuan diminta tidak malu menyampaikan kondisi mereka.
Sebab, Andi menegaskan, semakin cepat informasi diterima pemerintah, semakin cepat pula penanganan darurat dapat dilakukan. "Sehingga kalau seperti itu cepat diketahui. Nah kita juga ada namanya respon cepat, yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang dialami oleh masyarakat kita di lapangan,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki