Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tradisi Nebukoq Ujoh Bilang: Wujud Syukur Panen Raya dan Perekat Persaudaraan Dayak

Jody Kristianto • Kamis, 28 Mei 2026 | 21:46 WIB
Peragaan simbolis pemotongan batang padi dalam ritual adat Nebukoq yang berlangsung khidmat di Balai Adat Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu. (Foto: JODY/KP)
Peragaan simbolis pemotongan batang padi dalam ritual adat Nebukoq yang berlangsung khidmat di Balai Adat Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu. (Foto: JODY/KP)

UJOH BILANG – Tradisi Nebukoq kembali digelar masyarakat Kampung Ujoh Bilang sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil berladang selama satu tahun. Ritual adat yang mulai kembali dihidupkan dalam dua tahun terakhir itu berlangsung di Balai Adat Ujoh Bilang, Kamis (28/5).

Kepala Adat Kampung Ujoh Bilang, Amundus Lah menjelaskan, Nebukoq merupakan tradisi yang dimiliki hampir seluruh etnis Dayak dengan penyebutan berbeda, namun memiliki makna yang sama, yakni rasa syukur atas hasil panen.

“Jadi Nebukoq itu adalah ungkapan syukur masyarakat atas hasil yang kita peroleh selama berladang dalam satu tahun. Puncaknya ada di kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menerangkan, sebelum masuk pada acara puncak Nebukoq, terdapat sejumlah tahapan ritual yang dilakukan masyarakat di ladang. Salah satunya ritual “makan jemek” atau memberi makan jerami padi sebagai bentuk penghormatan terhadap padi yang dipercaya sebagai jelmaan dewa.

Dalam proses tersebut juga terdapat ritual “mekatiq”, yakni pembukaan larangan tertentu selama masa berladang. Setelah ritual dilakukan, masyarakat baru diperbolehkan memotong atau menebas jerami untuk membuka lahan baru.

“Jadi ada tahapan-tahapan seperti itu. Setelah mekatik baru kita boleh menebas jerami untuk mengolah lahan menjadi kebun. Sehingga Nebukok ini adalah rangkaian terakhir dalam kegiatan berladang,” jelasnya.

Amundus menyebutkan, tahun ini merupakan pelaksanaan kedua Nebukoq yang digelar secara bersama-sama di Kampung Ujoh Bilang. Ia bahkan berencana menetapkan 28 Mei sebagai Hari Nebukoq Kampung Ujoh Bilang agar tradisi tersebut terus dilaksanakan setiap tahun pada tanggal yang sama.

“Nanti dalam penyampaian saya akan saya tetapkan 28 Mei sebagai Hari Nebukok Kampung Ujoh Bilang. Jadi setiap tahun dilaksanakan di tanggal dan bulan yang sama,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, ritual adat diperagakan secara simbolis di lokasi acara dengan membawa beberapa batang padi dari ladang. Meski simbolis, menurutnya seluruh prosesi tetap dilakukan secara sakral seperti di ladang sebenarnya.

Selain ritual adat, masyarakat juga menyajikan berbagai makanan tradisional warisan leluhur sebagai bagian dari syukuran bersama.

Amundus menambahkan, tujuan utama dari pelaksanaan Nebukoq bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempererat persaudaraan masyarakat yang mulai renggang akibat perbedaan dan kesibukan masing-masing.

“Yang kita harapkan itu rasa persaudaraan, gotong royong, kebersamaan, persatuan itu muncul lagi dari kegiatan ini,” tuturnya.

Ia juga berharap kegiatan budaya seperti Nebukoq dapat menjadi daya tarik wisata budaya di Mahakam Ulu. Menurutnya, dukungan media, pemerintah, serta sektor pariwisata sangat penting agar adat dan budaya lokal tetap dikenal generasi muda maupun masyarakat luar daerah.

“Budaya-budaya itu kita tampilkan supaya adat istiadat kita ini bisa dikenang, minimal oleh generasi muda kita sendiri,” pungkasnya. (Riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Tradisi Nebukoq #Ujoh Bilang #Dayak #Mahakam Ulu