KALTIMPOST.ID-Rencana pembangunan PLTA Batoq Kelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) di Mahakam Ulu (Mahulu) mendapat dukungan dari kalangan pengamat energi baru terbarukan (EBT).
Proyek tersebut dinilai tidak hanya memperkuat pasokan listrik Kaltim, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya transisi energi menuju sumber daya yang lebih ramah lingkungan.
Pengamat energi baru terbarukan, Lauhil Machfudz Zakir mengatakan dirinya masih mempelajari secara detail perkembangan terbaru proyek tersebut.
Namun, menurutnya, pembangunan PLTA skala besar memerlukan sejumlah tahapan penting yang harus dipastikan berjalan dengan baik, terutama terkait pembangunan bendungan dan kawasan genangan air.
“PLTA harus terlebih dahulu menyiapkan bendungan atau daerah rendaman. Yang perlu dipastikan adalah apakah seluruh aspek di kawasan hulu sudah benar-benar klir dan siap untuk mendukung pembangunan,” ujarnya.
Baca Juga: Letkol Inf Muhammad Faisal Idris Resmi Jabat Dandim 0902/Berau Gantikan Kolonel Wirahady
Meski demikian, Lauhil optimistis proyek tersebut akan memberikan kontribusi besar terhadap sistem kelistrikan Kaltim.
Kehadiran tambahan daya sebesar 300 MW dinilai dapat memperkuat Sistem Mahakam yang menjadi tulang punggung pasokan listrik di sebagian besar wilayah Kaltim.
Ia menilai proyek tersebut juga sejalan dengan konsep awal pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengedepankan penggunaan energi bersih dan berkelanjutan.
Berdasarkan sejumlah proyeksi, keperluan listrik IKN saat beroperasi penuh diperkirakan mencapai sekitar 465 MW.
“PLTA Batoq Kelo berpotensi menjadi salah satu sumber energi yang mendukung kebutuhan listrik IKN karena konsepnya memang energi ramah lingkungan,” kata ketua Yayasan Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan itu.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Pengawasan Distribusi BBM di Berau Diperketat, Pertamina Pastikan Stok Aman
Menurut Lauhil, Mahulu memiliki potensi energi air yang sangat besar. Kondisi geografis wilayah tersebut dinilai ideal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air karena memiliki banyak daerah hulu sungai dengan kontur yang mendukung pembangunan bendungan.
“Mahulu dari Tabang hingga kawasan hulu sungai memiliki potensi besar. Kontur wilayahnya sangat mendukung untuk pengembangan PLTA,” ujar alumnus Magister Energi Universitas Diponegoro itu.
Bahkan, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya sekitar tujuh tahun lalu, potensi energi air di kawasan hulu Sungai Mahakam diperkirakan bisa menghasilkan listrik lebih dari 1.000 MW bila dikembangkan secara optimal.
Lauhil menegaskan pembangunan PLTA menjadi langkah penting untuk meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi nasional.
Selain lebih ramah lingkungan, pengembangan EBT juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang semakin tidak efisien dan memiliki dampak besar terhadap lingkungan.
Data Dewan Energi Nasional (DEN) dalam rencana umum energi nasional (RUEN) menunjukkan Kaltim memiliki potensi EBT yang sangat besar.
Potensi energi surya diperkirakan mencapai 13.479 MW, bioenergi dan biogas sebesar 1.086,14 MW, serta energi angin sekitar 212 MW.
Selain itu, jaringan sungai yang tersebar di berbagai wilayah menjadikan Kaltim memiliki peluang besar mengembangkan PLTA maupun pembangkit listrik tenaga mikrohidro sebagai sumber energi masa depan. (rd)
Editor : Romdani.