KALTIMPOST.ID,WASHINGTON–Ketegangan di Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang dalam 48 jam terakhir. Situasi panas ini kian mengancam kelanjutan negosiasi perpanjangan gencatan senjata yang tengah diupayakan kedua belah pihak guna mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya telah membom sejumlah situs radar dan pangkalan drone militer Iran di sekitar kota Geruk dan Pulau Qeshm sepanjang Sabtu dan Minggu kemarin. Serangan ini merupakan balasan langsung setelah Teheran menembak jatuh drone MQ-1 milik AS di atas perairan internasional pada akhir pekan lalu.
"Serangan terukur ini dilakukan sebagai respons atas tindakan agresif Iran yang mengancam keselamatan kapal-kapal di kawasan tersebut," tulis pernyataan resmi CENTCOM, Senin (1/6) waktu setempat.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Piala Dunia 2026, Sejumlah Negara Izinkan Bar Buka hingga Subuh
Balasan Rudal Iran ke Kuwait dan Blokade Hormuz
Merespons serangan Washington, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik. Iran mengklaim membidik menara telekomunikasi pangkalan militer AS.
Otoritas Kuwait melaporkan pertahanan udara mereka aktif pada Senin pagi untuk mencegat serangan udara tersebut. CENTCOM memastikan pasukan AS berhasil menembak jatuh dua rudal balistik Iran yang mengarah ke pangkalan militer mereka di Kuwait, dan melaporkan tidak ada tentara AS yang terluka.
Televisi negara Iran bahkan menyiarkan rekaman peluncuran rudal tersebut, memperlihatkan stiker bergambar Presiden AS, Donald Trump yang babak belur dengan latar belakang Selat Hormuz bertuliskan: "Sampai tentara Amerika terakhir meninggalkan kawasan ini."
Baca Juga: Hore! Gaji ke-13 Pensiunan Juni 2026 Cair Full 100 Persen, Ini Penyebab Jika Belum Masuk Rekening
Hingga saat ini, Iran masih memperketat blokade di Selat Hormuz. Jalur perdagangan yang biasanya dilewati 130 kapal per hari kini menyusut drastis menjadi hanya 36 kapal per pekan. Dampaknya, pasokan energi global terganggu, harga BBM dunia melonjak, dan ancaman kelangkaan pangan membayangi akibat tersendatnya pasokan pupuk kimia dunia yang 30 persennya diproduksi di kawasan Teluk.
Eskalasi Israel-Hezbollah Persulit Diplomasi
Di belahan rute konflik lain, perang antara Israel dan kelompok militan Hezbollah di Lebanon juga terus memanas meski kedua pihak terikat gencatan senjata nominal. Hezbollah terus mengirim drone ke Israel, sementara Israel memperluas pendudukannya jauh ke dalam wilayah Lebanon.
Presiden AS, Donald Trump sempat mengklaim lewat media sosialnya bahwa Israel dan Hezbollah sepakat menurunkan tensi konflik setelah dirinya berkomunikasi dengan PM Israel Benjamin Netanyahu dan pihak Hezbollah. Namun, beberapa saat kemudian, Israel justru mendeteksi peluncuran rudal dari Lebanon dan memerintahkan warganya di wilayah utara untuk segera masuk ke bunker perlindungan.
Baca Juga: Ayah Korban Beberkan Kejanggalan Baru Kematian AM, Tali Hilang Misterius hingga Penolakan Autopsi
Mantan Duta Besar Pakistan untuk AS, Masood Khan, menilai manuver Israel di Lebanon membuat iklim diplomasi Washington-Teheran kian keruh. "Israel sedang menciptakan realitas strategis baru di lingkungannya," ujarnya kepada The Associated Press.
Negosiasi di Tengah Krisis Kepercayaan
Di tengah hujan peluru, Trump mengklaim bahwa pembicaraan gencatan senjata dengan Iran sebenarnya masih terus berjalan dengan ritme cepat. Wakil Presiden AS, JD Vance, pekan lalu mengindikasikan bahwa para negosiator tengah mencoba menyepakati poin-poin umum terkait program nuklir Iran.
Baca Juga: BMKG Prediksi PPU Diguyur Hujan Ringan Dua Hari ke Depan, Disusul Cuaca Berawan
Salah satu target utama AS-Israel dalam perang ini adalah mencegah Iran memproduksi senjata nuklir. Meski Iran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai, mereka diketahui memiliki cadangan uranium yang diperkaya tinggi dan cukup untuk membuat beberapa hulu ledak nuklir jika mereka menghendakinya.
Namun, sikap optimistis Gedung Putih ditepis oleh Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuduh AS terus-menerus mengubah posisi tawarnya dalam meja perundingan.
"Kami sedang bernegosiasi di dalam atmosfer yang penuh dengan rasa saling tidak percaya," tegas Baghaei kepada awak media, Senin sore.(*)
Editor : Thomas Priyandoko