KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Konflik di Timur Tengah kian memanas. Iran dilaporkan telah merusak sedikitnya 20 fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di delapan negara sejak awal perang pada akhir Februari 2026 lalu.
Temuan ini terungkap berdasarkan analisis gambar satelit dan video oleh BBC Verify. Hasil investigasi tersebut menunjukkan skala serangan balasan Iran jauh lebih luas dan presisi daripada yang diakui secara publik oleh pemerintah AS.
Delapan negara yang menjadi target sasaran Iran meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman. Beberapa analis pertahanan bahkan memperkirakan jumlah pangkalan militer AS yang terkena gempuran sebenarnya bisa mencapai 28 titik.
Baca Juga: Kantor Badan Gizi Nasional Dijaga Ketat TNI, Pegawai Tertahan di Luar Gedung, Ada Apa?
Rangkaian serangan ini menyebabkan kerusakan senilai jutaan dolar AS pada sistem pertahanan udara canggih, pesawat pengisian bahan bakar, radar, hingga perangkat komunikasi satelit.
Bantah Klaim Pentagon
Situasi ini berbanding terbalik dengan klaim Gedung Putih dan Pentagon. Sebelumnya, AS menyatakan telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran melalui Operasi Epic Fury dan mengklaim militer Iran hampir sepenuhnya dilumpuhkan.
Namun, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan Bahwa Timur Tengah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi pangkalan militer Amerika. Pernyataan ini menyusul serangan bertubi-tubi AS-Israel di Iran dan Lebanon selama tiga bulan terakhir.
Baca Juga: Rusdiansyah Aras Pamit dari Kursi Ketua Umum KONI Kaltim, Beri Pesan Begini
Saat dikonfirmasi mengenai temuan BBC Verify, pejabat pertahanan AS menolak memberikan komentar dengan alasan "keamanan operasional".
AS sendiri diketahui berupaya membatasi publikasi citra satelit di wilayah konflik. Planet, penyedia utama citra satelit, diminta membatasi gambar baru di Timur Tengah tanpa batas waktu guna mencegah informasi tersebut digunakan oleh pihak lawan. Namun, BBC Verify berhasil melacak kerusakan menggunakan penyedia satelit internasional lain yang dikombinasikan dengan data lama.
Kerusakan Alutsista Bernilai Triliunan Rupiah
Berdasarkan analisis ahli, dampak kerugian material yang diderita militer AS sangat masif. Berikut adalah rincian fasilitas dan alutsista strategis AS yang hancur atau rusak:
Sistem Rudal THAAD: Tiga sistem peluncur rudal anti-balistik canggih hancur di Pangkalan Udara Al Ruwais dan Al Sader (UEA), serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti (Yordania). Sebagai informasi, AS hanya memiliki 8 sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di seluruh dunia, dengan biaya produksi mencapai US$ 1 miliar (sekitar Rp 17,8 triliun) per unit.
Pesawat pengintai danjet tempur di Pangkalan Udara Prince Sultan (Arab Saudi), pesawat pengintai canggih E-3 Sentry senilai US$ 700 juta dilaporkan rusak berat. Secara total, setidaknya 42 pesawat—termasuk jet tempur F-15, F-35, pesawat serang A-10, dan 24 drone MQ-9 Reaper—hancur atau rusak sejak Februari.
Baca Juga: Gencatan Senjata Terancam Batal, AS Bom Iran, Teheran Balas Rudal Pangkalan Militer di Kuwait
Infrastruktur pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan (Kuwait), analisis dari perusahaan intelijen pertahanan Janes dan MAIAR menunjukkan bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, akomodasi pasukan, serta perangkat komunikasi satelit hancur total.
Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irlandia, Laksamana Madya Mark Mellett, menyatakan kepada BBC Verify bahwa sistem yang rusak tersebut merupakan inti jaringan pertahanan regional yang sangat kompleks. "Tidak dapat digantikan dengan cepat atau mudah," ujarnya.
Meski skala kerusakan total sulit diukur, Pentagon dalam laporan bulan Mei telah mengalokasikan total biaya Operasi Epic Fury sebesar US$ 29 miliar (sekitar Rp 516 triliun), yang sebagian besar diduga kuat untuk pos perbaikan dan penggantian alat tempur. Angka ini bahkan dinilai oleh politisi Partai Demokrat masih terlalu rendah dari realisasi kerugian di lapangan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko