KALTIMPOST.ID,WASHINGTON DC–Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kini menghadapi tekanan hebat dari berbagai arah, termasuk dari sekutu dekatnya sendiri. Perang melawan Iran yang awalnya ia janjikan kepada publik hanya sebagai serangan militer singkat, kini justru berubah menjadi konflik berkepanjangan yang buntu dan tanpa kepastian.
Situasi pelik ini terjadi hampir sepekan setelah para negosiator AS dan Iran mencapai kesepakatan tentatif untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut sekaligus menjadi jembatan untuk memulai babak baru perundingan program nuklir Iran.
Baca Juga: Fantastis! Kata KPK Nilai Pemerasan Kasus Silmy Karim Cs Tembus Ratusan Miliar Rupiah
Namun, kesepakatan ini masih tertahan di meja Trump karena sang presiden meminta sejumlah perubahan yang belum ditentukan. Di sisi lain, Teheran tampaknya membaca kelemahan Washington dan enggan tunduk pada tuntutan baru tersebut.
Ketegangan makin meningkat setelah AS dan Iran kembali terlibat baku tembak pada pekan ini, memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang disepakati sejak 7 April lalu bakal runtuh. Menanggapi situasi itu, Trump mencoba meremehkan eskalasi yang terjadi saat berbicara di Gedung Putih, Rabu waktu setempat.
Baca Juga: Badai OTT di Imigrasi! KPK Tetapkan Wamen Silmy Karim dan 7 Pejabat Teras Jadi Tersangka Korupsi
"Itu belahan dunia yang berbeda," kata Trump kepada awak media di Oval Office. "Di wilayah sana, saya rasa gencatan senjata itu artinya ketika Anda menembak dengan cara yang lebih moderat," katanya seperti dikutip dari AP, Kamis (4/6).
Sikap santai Trump bertolak belakang dengan kondisi riil global. Akibat belum adanya kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz, harga energi dunia terus melambung tinggi. Dampak lonjakan biaya bahan bakar ini mulai memicu kecemasan global karena ikut mendongkrak harga pangan dan kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk berpotensi memberi efek domino ke pasar domestik Indonesia.
Trump Mulai Terjebak Skenario Sendiri
Sejumlah pejabat internal pemerintahan dan pengamat militer membisiki Trump bahwa kembali ke jalur pengeboman adalah ide yang buruk. Berdasarkan informasi internal yang dihimpun, militer AS dilaporkan telah menguras persediaan amunisi mereka dengan kecepatan yang mengkhawatirkan selama 38 hari membombardir Iran bersama Israel. Butuh waktu sedikitnya tiga tahun hanya untuk memulihkan kembali pasokan sistem senjata utama tertentu.
Selain itu, sekutu-sekutu AS di Teluk juga mulai ketakutan. Mereka cemas Iran akan melancarkan aksi balas dendam yang menyasar infrastruktur kritis dan ladang minyak mereka, yang dipastikan bakal meremukkan perekonomian kawasan tersebut.
Baca Juga: Kabar Baik Tim Matador, Lamine Yamal Diproyeksikan Fit di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Meski ditekan untuk segera berdamai, Trump secara pribadi menolak keras jika harus menerima kesepakatan yang mirip dengan Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA) warisan era Barack Obama—perjanjian yang dulu ia batalkan sendiri pada periode pertama kepresidenannya. Trump sadar betul, salah melangkah dalam diplomasi kali ini akan merusak warisan politik (legacy) miliknya.
Imbas ke Pemilu Parlemen dan Harga Minyak
Di dalam negeri, isu perang yang tidak populer ini langsung dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk menggembosi posisi Partai Republik menjelang Pemilu Parlemen (Midterm Elections) November mendatang. DPR AS bahkan telah meloloskan resolusi simbolis yang mendesak penghentian aksi militer terhadap Iran, di mana empat politikus Republik membelot dan ikut mendukung resolusi tersebut.
Baca Juga: Dilarang Terbang Akibat Catatan Kriminal, Breel Embolo Terancam Absen Bela Swiss di Piala Dunia 2026
Dalam sidang di Capitol Hill, Senator Demokrat Cory Booker mengkritik tajam Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menyebut AS yang berstatus negara terkuat di bumi justru kini terjebak dalam status stalemate (jalan buntu) dengan Iran.
Pengamat politik dari Muhlenberg College, Christopher Borick, menilai situasi ini menjadi kartu as bagi Demokrat di daerah-daerah pemilihan yang rawan (swing districts). Jika konflik ini terus tersendiri tanpa kepastian, kenaikan harga minyak di pasar global akan terus mencekik kantong pemilih, dan itu adalah berita buruk bagi elektabilitas partai pendukung Trump.(*)
Editor : Thomas Priyandoko