Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Iran Kembali Gempur Israel: Trump Peringatkan Ancaman Perang Besar Timur Tengah

Uways Alqadrie • Senin, 8 Juni 2026 | 08:27 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

TEHERAN, KALTIMPOST.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran disebut meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6) waktu setempat, memicu kekhawatiran bahwa upaya perdamaian yang selama ini berjalan di kawasan kembali berada di ujung tanduk.

Aksi tersebut muncul setelah petinggi parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat dan sekutunya melanggar komitmen yang menjadi dasar terciptanya gencatan senjata.

Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial X, ia menyoroti keberlanjutan blokade laut oleh AS serta situasi di Lebanon yang dinilai telah merusak kesepakatan damai.

Baca Juga: Gempa M 7,7 Filipina Picu Ancaman Tsunami, BMKG Keluarkan Peringatan untuk Sulawesi hingga Kaltim

Menurut Ghalibaf, keberadaan pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan kini berpotensi menjadi target sah apabila tekanan militer dan blokade terus berlangsung. Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras Teheran terhadap kebijakan Washington di Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menegaskan bahwa serangan yang dilakukan masih berada dalam kerangka kesepakatan yang selama ini berlaku.

Mereka menyebut gencatan senjata bersifat bersyarat dan tidak menutup kemungkinan respons yang lebih besar apabila terjadi tindakan yang dianggap sebagai agresi baru.

IRGC menggambarkan serangan rudal itu sebagai peringatan awal. Teheran memperingatkan bahwa tingkat kekuatan serangan dapat ditingkatkan apabila situasi kembali memburuk.

Sementara itu, laporan sejumlah media internasional menyebut Israel telah mengaktifkan sistem pertahanan udaranya setelah mendeteksi peluncuran rudal dari arah Iran. Militer Israel mengaku langsung melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi ancaman tersebut.

Perkembangan terbaru itu mendapat perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam komentarnya kepada media AS, Trump menilai serangan rudal Iran justru memperumit proses negosiasi yang selama ini tengah diupayakan berbagai pihak.

Sejumlah sumber di lingkungan Gedung Putih bahkan mengakui bahwa Washington kemungkinan salah memperkirakan kesediaan Iran untuk kembali terlibat dalam konflik terbuka. Situasi tersebut disebut membuat pemerintahan Trump menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas kawasan.

Meski demikian, Trump tetap optimistis jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ia meyakini upaya mediasi yang dijalankan Amerika Serikat masih memiliki peluang untuk membawa pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan.

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah berlangsung sejak April lalu. Namun konflik yang terus berlanjut di Lebanon antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran membuat suasana tetap rapuh dan rentan memicu bentrokan baru.

Dalam perundingan yang berjalan, Iran menuntut penghentian tekanan militer di Lebanon serta pencabutan blokade terhadap jalur pelayaran dan pelabuhannya. Sebaliknya, Amerika Serikat menginginkan jaminan bahwa program nuklir Iran tidak akan digunakan untuk pengembangan senjata.

Baca Juga: Wanita di Lampung Bersimbah Darah Ditusuk Pacar 12 Kali, Pelaku Baru Ditangkap Setelah 2 Bulan

Di tengah memanasnya situasi, muncul pula laporan bahwa Washington tengah mempertimbangkan penggunaan aset Iran yang dibekukan untuk membantu pembiayaan rekonstruksi kawasan yang terdampak konflik. Usulan itu langsung ditolak Teheran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang dan tidak dapat digunakan untuk kepentingan negara lain maupun sekutu Amerika Serikat.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Perang Iran Amerika #tel aviv #Israel #iran #donald trump