Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ironi "Mesin Emas" Kaltim: Koleksi 5 Emas PON Berturut-turut, Muhammad Aliansyah Masih Terjebak Status Honorer

Eko Pralistio • Rabu, 10 Juni 2026 | 15:22 WIB
Di balik torehan tinta emas berupa rekor 5 medali emas PON berturut-turut serta 3 emas SEA Games untuk Indonesia, nasib kesejahteraan Ali di luar matras masih memprihatinkan lantaran hingga kini status kerjanya masih tertahan sebagai tenaga honorer di Dispora Samarinda akibat ketidakpastian kuota ASN dari pemerintah. (FOTO: EKO PRALISTIO/KALTIM POST)
Di balik torehan tinta emas berupa rekor 5 medali emas PON berturut-turut serta 3 emas SEA Games untuk Indonesia, nasib kesejahteraan Ali di luar matras masih memprihatinkan lantaran hingga kini status kerjanya masih tertahan sebagai tenaga honorer di Dispora Samarinda akibat ketidakpastian kuota ASN dari pemerintah. (FOTO: EKO PRALISTIO/KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Nama Muhammad Aliansyah di dunia Gulat Indonesia sudah tak asing didengar. Aliansyah diibaratkan "mesin emas" bagi Indonesia di ajang-ajang internasional. 

Namun, di luar arena, kisahnya terdengar lirih; seorang atlet berprestasi yang hingga kini masih berstatus tenaga honorer di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Samarinda.

Aliasnyah diketahui berkali-kali naik podium mengharumkan nama Indonesia maupun Kaltim di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Enam kali tampil di SEA Games, Aliansyah mengoleksi 3 emas dan 2 perak. Di level nasional, catatannya bahkan lebih gemilang, lima kali berturut-turut di ajang PON, dia selalu pulang dengan medali emas untuk Benua Etam.

Namun, torehan prestasi itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kepastian hidupnya sebagai atlet. Kepada Kaltim Post, Aliansyah menceritakan bagaimana perjalanan karirnya bisa konsisten hingga saat ini.

Perjalanan Aliansyah di gulat dimulai sejak remaja. Sekitar tahun 2006, saat usianya masih 15 tahun, dia mulai serius menekuni cabang olahraga ini. Dari sekadar coba-coba, dia justru menemukan jalan hidupnya di atas matras.

Tidak memakan waktu lama, nama Aliansyah langsung bergening. Di usia itu, Aliansyah sudah menorehkan emas di kejuaraan nasional. Dari situlah pintu prestasinya mulai terbuka, pemanggilan daerah, pelatnas, hingga tim nasional Indonesia.

“Tahun-tahun awal itu masih cari jati diri. Tapi dari situ kelihatan memang saya cocoknya di gulat,” begitu kurang lebih ia menggambarkan masa awal kariernya, Selasa (9/6/2026).

Dari PON, SEA Games, Sampai Asian Games

Karier Aliansyah melesat cepat. Tahun 2007, dia sudah dipanggil memperkuat tim Kaltim. Setahun kemudian, dia turun di PON dan langsung menyumbang emas.

Panggung internasional datang menyusul. Pada usia 17–18 tahun, Aliansyah sudah dipanggil memperkuat Indonesia di SEA Games 2009 di Laos dan membawa pulang medali perak. 

Setahun setelahnya, dia masuk dalam skuad terbatas Indonesia di Asian Games. Pada momen ini adalah, pengalaman yang menjadi pelajaran besar meski belum berbuah podium.

Puncaknya datang pada 2011 ketika dia kembali tampil di SEA Games dan meraih emas pertamanya untuk Indonesia. Ia kemudian melanjutkan dominasinya di level nasional dengan emas-emas berikutnya di PON 2012 Riau dan berbagai kejuaraan lain.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Tahun 2013 menjadi titik terberatnya: di tengah duka keluarga dan musibah kebakaran rumah, performanya turun dan dia pulang tanpa medali. Itu menjadi satu-satunya fase krusial dalam karier panjangnya. “Saya pernah jatuh di titik itu. Rasanya hancur, tapi dari situ juga saya belajar lagi,” ujarnya.

Bangkit, Dicoret, Lalu Membasal di Matras 

Aliansyah kembali bangkit. Latihan keras nyaris tanpa jeda dia jalani menjelang pra-PON dan PON berikutnya. Hasilnya kembali meanis, emas untuk Kaltim.

Namun ujian belum selesai. Pada 2017, namanya sempat dicoret dari skuad Asian Games tanpa penjelasan yang dia pahami. Keputusan itu membuatnya kecewa, bahkan sempat mempertanyakan langsung ke pihak tim.

Ali tidak tinggal diam. Dia membuktikan diri lewat jalur kualifikasi dan kembali merebut tempat di tim nasional. Di ajang internasional, dia bahkan sempat menaklukkan lawan-lawan kuat Asia, termasuk dari Korea Utara, sebelum langkahnya terhenti di semifinal melawan China.

Emas Demi Emas, Tapi Status Tak Berubah

Perjalanan panjang itu terus berlanjut. Tahun 2021 dia kembali menyumbang emas di PON Papua. Tahun 2023, dia mengulang kejayaan di SEA Games Kamboja dengan emas lain. 

Setahun setelahnya, dia kembali mempersembahkan emas PON kelima untuk Kaltim, sekaligus sejarah baru di gulat daerah.

Total, Aliansyah mengoleksi sedikitnya 5 emas PON, 3 emas SEA Games, dan sejumlah medali lain di level Asia junior maupun internasional. Namun di balik semua itu, statusnya tak banyak berubah. Hingga kini, Ali masih tercatat sebagai tenaga honorer di Dispora Samarinda.

Janji ASN Yang Belum Jadi Kepastian

Aliansyah mengaku pernah mendapat kabar bahwa dirinya akan diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Janji itu, katanya, sudah bergulir sejak era pemerintahan Joko Widodo, dan kembali disebut dalam periode kepemimpinan Prabowo Subianto.

Bahkan, lanjut dia, pemerintah menjanjikan itu pada 2023, lalu kembali didengar pada 2025. Namun hingga kini, kepastian itu belum ia terima. “Saya masih menunggu. Katanya tinggal kuota, tinggal dipanggil. Tapi sampai sekarang belum ada,” ujarnya.

Harapan itu masih diharapkan olehnya, meski waktu terus berjalan tanpa ada kejelasan. Di sisi lain, Ali juga menyayangkan minimnya apresiasi dari pemerintah daerah, terutama setelah prestasi terakhirnya di SEA Games dan PON.

Dalam ingatannya, pada masa-masa sebelumnya, apresiasi dari pemerintah kota maupun provinsi masih terasa. Namun untuk capaian terakhir, dia mengaku tidak ada sambutan maupun penghargaan khusus.

“Dulu masih ada, sekarang terasa beda,” katanya. Meski begitu, dia memilih untuk tidak mempersoalkan. Namun, hingga saat ini, Ali mengaku belum ada pembahasan lanjut mengenai nasib status honornya di Dispora.

Dia berharap uluran tangan pemerintah daerah untuk membahas soal tersebut. "Mungkin saya berharap ASN di provinsi sih, mas. Karena saya udah membela provinsi, udah membela Kaltim. Saya bawa di pusat pun bukan nama pribadi ya, tapi nama Kaltim," timpalnya.

"Jadi kalau bisa sih Pak Gubernur bisa kasih reward lah ke kami. Kami minimal dipanggil dulu lah apa yang bisa diwejangkan buat kami gitu. Apa yang bisa kami dengar, apa yang terbaik untuk kami gitu," pungkasnya. (riz)

Deretan prestasi Muhammad Aliansyah sebagai atletl Gulat asal Kalimantan Timur:

• SEA Games Laos 2009, kelas 60 kg — medali perak

• SEA Games Jakarta-Palembang 2011, kelas 60 kg — medali emas

• SEA Games Vietnam 2021, kelas 67 kg — medali perak

• SEA Games Kamboja 2023, kelas 67 kg — medali emas

• SEA Games Thailand 2025, kelas 67 kg — medali emas

• PON 2008 — medali emas untuk Kaltim

• PON 2012 — medali emas untuk Kaltim

• PON 2016 — medali emas untuk Kaltim

• PON 2021 — medali emas untuk Kaltim

• PON 2024 — medali emas untuk Kaltim

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#Atlet Gulat Kaltim Muhammad Aliansyah #Atlet Kaltim #dispora kaltim #honorer Kaltim