KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Rencana pemerintah memasukkan kembali proyek Kereta Api Trans Kalimantan ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) membawa harapan baru bagi masyarakat pulau ini terkhusus Kalimantan Timur.
Pasalnya, gagasan menghadirkan konektivitas Kalimantan melalui jalur kereta api sejatinya bukan hal baru bagi Kaltim.
Jauh sebelum Ibu Kota Nusantara (IKN) dibangun, Kalimantan Timur sudah lebih dulu memulai langkah besar melalui proyek kereta api yang digagas bersama PT Kereta Api Borneo (KAB) pada 2015.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Warga Balikpapan Pilih Migrasi ke Pertalite hingga Stok SPBU Habis
Kini, ketika Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kembali mendorong pembangunan jalur kereta api dari Singkawang, Kalimantan Barat, hingga Tanjung Selor, Kalimantan Utara, harapan lama yang sempat tertunda itu kembali mengemuka.
AHY menegaskan konektivitas Kalimantan tidak cukup hanya mengandalkan jalan nasional dan jalan tol.
Menurutnya, jaringan kereta api menjadi kebutuhan penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan integrasi wilayah.
Pemerintah saat ini merencanakan pembangunan jaringan kereta api Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sebagai bagian dari pengembangan perkeretaapian nasional hingga 2045.
Kaltim Pernah Jadi Pelopor
Pada 2015, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak melalui PT Kereta Api Borneo (KAB) telah menyiapkan pembangunan dua koridor utama di Kalimantan Timur.
Kepala Perwakilan PT KAB saat itu, HM Yadi Sabian Noor, menjelaskan proyek tersebut mencakup jalur selatan yang menghubungkan Kutai Barat hingga Penajam Paser Utara (PPU) sepanjang 203 kilometer serta jalur utara yang menghubungkan Tabang, Kutai Kartanegara, hingga Lubuk Tutung, Kutai Timur, sepanjang 217 kilometer.
Kedua jalur tersebut dirancang terhubung dengan kawasan industri dan pelabuhan strategis Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kutai Timur.
Baca Juga: Soal Imbauan Bupati Kutim agar ASN Tak Curhat di Medsos, Ini Tanggapan Pengamat
Saat itu, jalur utara direncanakan mulai dibangun pada Desember 2016, sementara jalur selatan dijadwalkan menyusul pada 2017.
Sebagai bentuk keseriusan proyek, perusahaan induk PT KAB, Russian Railways, bahkan telah membebaskan lahan sekitar 140 hektare di Penajam Paser Utara untuk pembangunan kawasan technopark, pelabuhan, dan jalur lingkar kereta api.
"Itu yang akan dibangun lebih dulu oleh Russian Railways sebagai holding company PT KAB," ujar Yadi saat itu.
JADI SAKSI
Wakil Bupati Berau Gamalis menjadi saksi bagaimana perjuangan Kaltim membangun proyek kereta api pertama di Kalimantan tersebut meski akhirnya redup.
Ia menjelaskan, saat itu pemerintah provinsi Kaltim di bawah kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak sangat serius dengan proyek ini.
Bahkan saat itu, Kaltim telah menyiapkan sumber daya manusia dengan mengirim sejumlah mahasiswa untuk belajar bidang perkeretaapian di Rusia.
" Bahkan sudah menyekolahkan orang ke Rusia, ke Moskow. Banyak anak-anak Kalimantan Timur yang belajar di Moskow di bidang perkeretaapian," kata Gamalis.
Baca Juga: Masuk Fase Paling Kritis, Badak Kaltim di Mahulu Akan Dievakuasi Pakai Helikopter
Ia mengungkapkan, keseriusan pemerintah daerah kala itu tidak hanya sebatas perencanaan. Sejumlah pejabat daerah juga melakukan koordinasi langsung dengan investor dan pemerintah Rusia guna memastikan proyek tersebut dapat berjalan.
Gamalis mengaku pernah terlibat dalam pertemuan di Moskow saat masih menjadi anggota DPRD untuk memberikan kepastian kepada investor terkait komitmen daerah terhadap pembangunan jalur kereta api di Kalimantan.
Kini Gamalis tetap optimistis proyek Kereta Api Trans Kalimantan dapat diwujudkan. Ia berharap pemerintah pusat tidak lagi berlarut-larut dalam tahap kajian mengingat pembahasan proyek tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bagi Kalimantan Timur, kehadiran kereta api dinilai semakin penting seiring berkembangnya Ibu Kota Nusantara (IKN), kawasan industri, pelabuhan, serta kebutuhan logistik antardaerah yang terus meningkat. (*)
Editor : Thomas Priyandoko