Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Tiket Pesawat Mahal dan Efisiensi Anggaran Tekan Industri Pariwisata Balikpapan, Perlu Ada Insentif ke Sektor Wisata

Muhammad Ridhuan • Minggu, 14 Juni 2026 | 08:14 WIB
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto

KALTIMPOST.ID-Industri pariwisata dan perhotelan di Balikpapan tengah menghadapi tekanan berat. Selain tingginya biaya transportasi, pelaku usaha juga terdampak berkurangnya perjalanan dinas pemerintah dan melambatnya aktivitas proyek-proyek besar yang selama ini menjadi sumber okupansi hotel.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto mengatakan kondisi yang dihadapi pelaku pariwisata saat ini menjadi salah satu yang terberat dalam beberapa tahun terakhir.

“Hotel-hotel sekarang banyak mengalami masalah. Banyak yang kesulitan karena kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pariwisata. Dulu ketika wisatawan turun masih ada kegiatan pemerintah yang membantu mengisi hotel, seminar dan pertemuan. Sekarang hampir tidak ada,” ujarnya kepada Kaltim Post, Jumat (13/6).

Menurut Joko, kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada berkurangnya perjalanan dinas dan kegiatan pemerintahan membuat tingkat hunian hotel ikut tertekan.

Baca Juga: IEE Series Balikpapan 2026 Perdana Digelar di Luar Jawa,  Hadirkan 100 Perusahaan dan 200 Merek dari 10 Negara, Didukung Pembangunan IKN

Kondisi tersebut diperparah dengan melambatnya aktivitas pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN) maupun proyek strategis lain yang sebelumnya menjadi sumber pergerakan orang ke Balikpapan.

“Kalau dulu aktivitas IKN sedang tinggi, hotel-hotel penuh. Sekarang pergerakannya berkurang. Pembangunan juga tidak seperti sebelumnya sehingga jumlah orang yang keluar masuk Balikpapan ikut menurun,” katanya.

Joko menilai mahalnya biaya transportasi menjadi persoalan lain yang membebani industri pariwisata. Harga tiket pesawat yang masih tinggi membuat minat perjalanan wisata maupun perjalanan bisnis menurun.

“Sekarang terbang dari Balikpapan ke Yogyakarta bisa mendekati Rp 2 juta. Orang akan berpikir berkali-kali untuk bepergian kalau tidak benar-benar perlu,” ujarnya.

Tidak hanya wisatawan, pelaku usaha pariwisata juga menghadapi kenaikan biaya operasional. Salah satunya akibat tingginya harga bahan bakar yang digunakan kendaraan wisata maupun kapal wisata.

Menurut dia, sebagian besar armada pariwisata saat ini menggunakan kendaraan berstandar Euro 4 yang wajib menggunakan Dexlite. Kondisi tersebut menyebabkan biaya operasional meningkat signifikan dibanding beberapa tahun lalu.

“Transportasi menjadi biaya terbesar. Kendaraan wisata dan bus tidak bisa lagi menggunakan bahan bakar biasa. Akibatnya biaya operasional naik cukup tinggi,” katanya.

Baca Juga: Teknologi Satelit hingga Forklift Listrik Warnai Transformasi Industri di IEE Series Balikpapan 2026

Dampak serupa juga dirasakan operator wisata sungai dan kapal wisata. Joko mencontohkan biaya operasional kapal wisata kini meningkat beberapa kali lipat dibanding sebelumnya karena kenaikan harga bahan bakar.

Meski demikian, ia menilai peluang pasar masih terbuka. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya dapat menarik wisatawan mancanegara datang ke Indonesia karena biaya berwisata menjadi relatif lebih murah. Namun peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan optimal karena tingginya biaya perjalanan domestik.

“Wisatawan asing memang melihat Indonesia lebih murah ketika dolar menguat. Tetapi ketika mereka harus melanjutkan perjalanan domestik, biaya transportasinya masih tinggi,” ujarnya.

Karena itu, BPPD mendorong pemerintah menyiapkan kebijakan yang dapat meringankan beban industri pariwisata, baik melalui dukungan promosi maupun insentif operasional bagi sektor transportasi wisata.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah pemberian subsidi bahan bakar bagi armada wisata, khususnya kendaraan dan bus pariwisata yang menjadi tulang punggung mobilitas wisatawan.

“Kalau biaya transportasi bisa ditekan, harga paket wisata juga akan lebih kompetitif. Ini akan membantu menggerakkan kembali sektor pariwisata,” katanya.

Baca Juga: Balikpapan Dipilih Jadi Tuan Rumah Perdana IEE Series di Luar Jakarta, Didukung Sektor Energi dan IKN

Di tengah situasi tersebut, pelaku industri juga didorong untuk mencari alternatif pasar dan inovasi produk wisata. Salah satunya dengan mengembangkan paket perjalanan menggunakan moda transportasi laut yang dinilai lebih terjangkau dibanding transportasi udara.

Joko menegaskan sektor pariwisata memiliki dampak berganda yang besar terhadap perekonomian daerah. Ketika kunjungan wisata meningkat, berbagai sektor lain mulai dari hotel, restoran, UMKM, transportasi hingga pelaku ekonomi kreatif ikut merasakan manfaatnya.

“Pariwisata itu efeknya luas. Ketika wisata bergerak, kuliner hidup, UMKM hidup, transportasi hidup, hotel hidup. Karena itu sektor ini perlu mendapat perhatian serius agar tidak semakin terpuruk,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #okupansi hotel #ibu kota nusantara #Pariwisata Balikpapan #Kutai Barat