KALTIMPOST.ID,WASHINGTON–Perundingan untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan kini telah memasuki babak akhir. Kendati demikian, waktu pasti penandatanganan kesepakatan kerangka kerja tersebut masih menjadi tanda tanya akibat adanya perbedaan pernyataan dari kedua belah pihak.
Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, sebelumnya memperkirakan bahwa Nota Kesepahaman (MoU) awal tersebut akan ditandatangani secara elektronik pada Minggu (14/6).
Baca Juga: Tak Mampu Beli Kaus Kaki, Ayah di TTS Oleskan Arang ke Kaki Anak Sebelum Sekolah
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa segera setelah dokumen tersebut ditandatangani, Selat Hormuz—jalur vital pasokan minyak global yang sebelumnya diblokade oleh Iran—akan langsung dibuka kembali untuk semua pihak.
Namun, pihak Teheran, seperti dikutip dari Reuters, merespons dengan sikap berhati-hati dan enggan mengonfirmasi lini masa tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa penandatanganan tidak akan terjadi pada hari Minggu, meski ia tidak menampik kemungkinan kesepakatan itu dapat terealisasi dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Piala Dunia di Stadion Levi’s, Ribuan Kursi Kosong Mewarnai Laga Imbang Qatar vs Swiss
Berdasarkan draf dokumen yang diperoleh Reuters, perjanjian awal ini akan mencakup penghentian permusuhan di semua garis depan, pencabutan blokade laut oleh AS, serta pencairan aset Iran senilai miliaran dolar yang dibekukan secara bertahap. Sebagai imbalannya, Iran wajib membuka kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, isu terkait program nuklir Iran—yang menjadi alasan utama Trump meluncurkan operasi militer tersebut—baru akan dibahas secara mendalam dalam periode perundingan lanjutan selama 60 hari.
Baca Juga: Diikuti Delapan Daerah, Kejurprov Junior Bola Tangan Resmi Bergulir
Seorang pejabat senior administrasi AS menyatakan, fase berikutnya akan melibatkan proses pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz yang kemungkinan turut melibatkan negara-negara anggota G7. Pihak Washington juga menegaskan bahwa tidak ada dana yang akan diserahkan kepada Iran sampai negara tersebut memenuhi komitmennya, termasuk pemusnahan stok uranium yang diperkaya tinggi miliknya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko