KALTIMPOST.ID-Grand opening 23 Semarang Shopping Center yang dirangkai dengan groundbreaking Hyatt Place Semarang di kawasan Pearl of Java (POJ) City, Sabtu (13/6), menjadi penanda babak baru pengembangan kawasan terpadu di ibu kota Jawa Tengah (Jateng).
Proyek yang dikembangkan PT Indonesian Paradise Property Tbk (Paradise Indonesia) itu tidak hanya diposisikan sebagai pusat perbelanjaan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi baru yang diharapkan memberi dampak luas bagi Semarang dan Jawa Tengah.
CEO Paradise Indonesia Anthony Prabowo Susilo mengatakan, kehadiran 23 Semarang Shopping Center merupakan hasil kolaborasi antara Paradise Indonesia dan Bina Nusantara (Binus) Group.
Menurutnya, kemitraan tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadirkan proyek yang memiliki nilai berbeda dibanding pusat perbelanjaan pada umumnya.
Anthony menjelaskan, nama “23 Semarang” dipilih bukan tanpa alasan. Nama tersebut mengandung harapan agar pusat perbelanjaan itu tidak hanya menjadi destinasi bagi warga Kota Semarang, tetapi juga mampu menarik kunjungan masyarakat dari berbagai daerah di Jateng.
“Kami memberikan penekanan pada kata Semarang karena kami berharap dan beraspirasi bahwa 23 Semarang bisa menjadi destinasi tingkat provinsi, bukan hanya destinasi masyarakat Semarang. Kami percaya tempat ini dapat menjadi salah satu tujuan baru di Jateng,” ujarnya.
Baca Juga: Kadin Balikpapan Waspadai Gelombang PHK, Pelaku Usaha Diminta Perkuat Efisiensi dan Digitalisasi
Selain nama, Paradise Indonesia juga menghadirkan konsep yang diklaim belum pernah ada sebelumnya di Semarang. Salah satunya melalui pendekatan desain arsitektur yang mengutamakan kenyamanan pengunjung saat menjelajahi seluruh area pusat perbelanjaan.
Anthony menjelaskan, bangunan 23 Semarang Shopping Center dirancang dengan bentuk sirkular, tetapi tetap memiliki alur perjalanan pengunjung yang linear. Konsep tersebut memungkinkan pengunjung melihat seluruh area dalam satu putaran tanpa harus melewati koridor-koridor terpisah seperti pada pusat perbelanjaan konvensional.
“Dalam satu putaran pengunjung dapat melihat seluruh destinasi yang ada. Tidak ada koridor kedua atau ketiga yang terpisah. Konsepnya adalah jauh di mata, dekat di kaki,” katanya.
Menurut dia, desain tersebut menciptakan ilusi ruang yang lebih luas. Meski secara ukuran area sewa bersih atau net leasable area tidak tergolong terbesar, pengalaman ruang yang dihadirkan memberikan kesan berbeda bagi pengunjung.
Paradise Indonesia juga mengusung konsep downtown dengan menghadirkan ruang hijau di dalam bangunan. Jika umumnya area hijau ditempatkan di luar gedung, pada proyek ini ruang terbuka hijau justru menjadi titik fokus yang berada di bagian tengah pusat perbelanjaan.
Konsep tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman sekaligus menjadi identitas utama 23 Semarang Shopping Center.
Ia menyebut sedikitnya terdapat 50 UMKM dan merek lokal asal Semarang yang telah bergabung dalam 23 Semarang Shopping Center. Selain itu, sekitar 2.500 tenaga kerja terserap dalam operasional kawasan tersebut.
Anthony bahkan membandingkan jumlah tenaga kerja yang ditampung pusat perbelanjaan itu dengan sebuah pabrik otomotif besar yang pernah ia kunjungi di Cikarang.
“Saya pernah mengunjungi pabrik mobil besar dengan luas lahan 77 hektare dan jumlah pekerja sekitar 2.000 orang. Di sini, dengan lahan sekitar 6 hektare, kami bisa menyerap lebih dari 2.500 pekerja. Ini menunjukkan bahwa pusat ekonomi modern juga mampu memberikan kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Diketahui, selain di Semarang, Paradise Indonesia juga merupakan pengembang dari 88 Plaza yang berdiri di Jalan Syarifuddin Yoes atau depan Dome Balikpapan.
88 Plaza merupakan kawasan kawasan komersial modern. Berbeda dengan mal konvensional, 88 Plaza mengusung konsep open lifestyle district yang memadukan area bisnis, kuliner, komunitas, dan ruang terbuka dalam satu kawasan.
Kawasan ini dirancang untuk mendukung gaya hidup urban sekaligus menjadi pusat aktivitas baru di Balikpapan. Rencananya, 88 Plaza akan dilengkapi area retail dan F&B, ruang usaha, ruang publik, serta hotel internasional yang terintegrasi dengan kawasan tersebut. (rd)
Editor : Romdani.