KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Ancaman fenomena El Nino mulai diwaspadai Pemprov Kalimantan Timur. Fenomena iklim yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi mulai pertengahan tahun hingga awal 2027 itu berpotensi menurunkan curah hujan dan memicu kemarau lebih panjang, sehingga dapat mengganggu produktivitas sektor pertanian.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mulai menyiapkan sejumlah langkah mitigasi agar produksi pangan tetap terjaga dan pasokan kebutuhan masyarakat tidak terganggu.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan mengatakan, Indonesia saat ini mulai memasuki musim kemarau dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Namun, kondisi cuaca di Kaltim sejauh ini masih relatif mendukung aktivitas pertanian.
"Untuk Kaltim, kondisi cuaca masih cukup kondusif. Curah hujan di sejumlah wilayah masih terjadi dan itu menjadi keuntungan bagi petani untuk melanjutkan proses tanam," ujarnya, Minggu (14/6/2026). Menurut Fahmi, meski beberapa daerah mulai menunjukkan kondisi yang lebih kering, hujan yang masih turun di berbagai wilayah Kaltim dapat dimanfaatkan petani untuk menanam komoditas tanaman pangan maupun hortikultura.
Baca Juga: Jauh Lebih Hemat, Cuma Rp 1.000-an Per Hari untuk Motor Bebas Parkir Setahun di Samarinda
"Beberapa daerah memang mulai lebih kering, tetapi di Kaltim hujan masih cukup sering turun sehingga kegiatan pertanian masih bisa berjalan," katanya. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi petani untuk memaksimalkan musim tanam sebelum kemarau mencapai puncaknya. Ketersediaan air hujan yang masih cukup diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan di tengah ancaman perubahan iklim.
Selain itu, DPTPH juga mendorong petani melakukan langkah adaptasi dengan memperkuat pengelolaan sumber daya air. Salah satunya melalui pembangunan penampungan air hujan yang dapat dimanfaatkan sebagai cadangan saat curah hujan mulai menurun.
"Dengan adanya penampungan air, kami berharap tersedia sumber irigasi alternatif ketika kemarau berlangsung lebih panjang. Dengan begitu, kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi dan risiko gagal panen bisa ditekan," jelasnya.
Di sisi lain, DPTPH terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memperkuat kesiapan infrastruktur pertanian serta mempercepat penyaluran bantuan kepada petani. Bantuan yang diprioritaskan antara lain sarana perpompaan dan jaringan perpipaan guna mendukung distribusi air ke lahan pertanian saat ketersediaan air mulai berkurang.
"Fasilitas perpompaan dan jaringan perpipaan sangat penting untuk membantu petani mempertahankan produktivitas lahan ketika musim kemarau berlangsung," terangnya. Fahmi menilai, kombinasi upaya mitigasi di tingkat petani dan dukungan infrastruktur dari pemerintah disebut dapat menjaga ketahanan sektor pertanian Kaltim.
Dengan demikian, produksi pangan tetap stabil meski menghadapi potensi dampak El Nino sepanjang musim kemarau tahun ini. "Harapannya produksi komoditas pangan tetap terjaga sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki