KALTIMPOST.ID, GAZA - Lebih dari 10.000 jenazah warga Gaza dilaporkan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat konflik yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) memperingatkan bahwa banyak korban kemungkinan tidak akan pernah dapat diidentifikasi karena proses pencarian yang sangat lambat dan keterbatasan peralatan untuk mengevakuasi jenazah.
Ribuan Jenazah Gaza Terancam Tidak Dapat Diidentifikasi
ICRC menyatakan bahwa waktu menjadi faktor penting dalam proses identifikasi korban. Semakin lama jenazah berada di bawah puing-puing bangunan, semakin besar kemungkinan kondisi jasad mengalami kerusakan yang menyulitkan proses pengenalan identitas.
Juru bicara ICRC di Yerusalem, Pat Griffiths, mengingatkan bahwa keterlambatan evakuasi dapat menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mengidentifikasi para korban.
"Tidak diragukan lagi bahwa jenazah-jenazah ini akan segera sulit diidentifikasi,"ujar Griffiths, dilansir dari inews, Senin (15/6/2026).
"Semakin lama jenazah terbaring di bawah reruntuhan, semakin besar kemungkinan mereka berada dalam tahap pembusukan lanjut, bahkan menjadi kerangka, ketika akhirnya ditemukan," sambungnya.
Menurut ICRC, kondisi tersebut juga diperburuk oleh keterbatasan akses para ahli forensik terhadap bukti pendukung yang biasanya digunakan untuk memastikan identitas korban. Akibatnya, proses identifikasi berpotensi menjadi semakin rumit ketika jenazah berhasil ditemukan.
Minim Alat Berat Hambat Proses Pencarian Korban
Upaya pencarian korban di Gaza saat ini masih dilakukan dengan peralatan sederhana. Tim penyelamat menggunakan sekop, gerobak, cangkul, alat penggaruk, hingga tangan kosong untuk menggali jutaan ton puing yang menutupi area permukiman yang hancur.
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, proses evakuasi belum menunjukkan kemajuan signifikan. Salah satu kendala terbesar adalah tidak tersedianya alat berat seperti ekskavator yang dibutuhkan untuk mempercepat pengangkatan reruntuhan.
ICRC menyebut berbagai permintaan untuk memasukkan alat berat ke wilayah Gaza belum memperoleh persetujuan. Situasi tersebut membuat pencarian korban berjalan sangat lambat, sementara kondisi jenazah terus mengalami penurunan seiring berjalannya waktu.
Pejabat kesehatan di Gaza memperkirakan sedikitnya 10.000 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Namun sejumlah ahli meyakini angka sebenarnya bisa lebih tinggi, bahkan mencapai sekitar 14.000 korban.
Sementara itu, dikutip dari The Guardian sejumlah pejabat Israel menyatakan tidak ada izin yang diberikan untuk membawa peralatan yang digunakan dalam proses evakuasi jenazah di Gaza. Akibatnya, ribuan keluarga korban masih menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka yang hilang sejak perang berlangsung.
Peringatan dari ICRC menunjukkan bahwa semakin lama proses pencarian tertunda, semakin besar risiko hilangnya identitas para korban. Kondisi ini menambah beban krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza hingga saat ini.***
Editor : Dwi Puspitarini