KALTIMPOST.ID,SINGAPURA—Harga minyak mentah dunia dilaporkan anjlok lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (15/6) pagi. Penurunan tajam ini dipicu oleh pengumuman mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi yang menyatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Pantauan pasar komoditas pada Senin pukul 00.04 GMT (atau pagi hari waktu Indonesia) menunjukkan kontrak berjangka minyak mentah Brent merosot sebesar USD 3,58 atau sekitar 4,10 persen ke posisi USD 83,75 per barel. Pelemahan serupa juga dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang ambles USD 4,01 atau 4,72 persen menjadi USD 80,87 per barel. Penurunan ini melanjutkan tren negatif setelah kedua kontrak minyak tersebut juga sempat terkoreksi di atas 3 persen pada akhir pekan lalu.
Baca Juga: Ditekan Isu Politik dan Konflik, Kapten Timnas Iran Sebut Piala Dunia Kali Ini Kurang Menggembirakan
Perdana Menteri Pakistan, selaku pihak mediator dalam konflik ini, membeberkan bahwa nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian antara AS dan Iran dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6) mendatang.
Melalui pernyataan resminya pada Minggu (14/6), Presiden AS Donald Trump memastikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka secara bebas tanpa pungutan bagi lalu lintas komersial. Selain itu, Trump juga telah menginstruksikan penghentian blokade laut yang sebelumnya diterapkan militer AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga: Mobil Jarang Dipakai? Waspadai Hewan yang Diam-Diam Bersarang di Mesin
"Premi risiko geopolitik yang sebelumnya melambungkan harga minyak mentah, kini mulai terkikis secara agresif seiring para pelaku pasar mengantisipasi kembalinya pasokan minyak global ke kondisi normal," ujar Tim Waterer, Chief Market Analyst di KCM Trade, dalam analisisnya.
Sebagai informasi, dunia sempat kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas setelah konflik bersenjata menutup jalur Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan. Selat tersebut merupakan jalur urat nadi logistik global yang mengalirkan seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dunia.
Baca Juga: Libur Sekolah, Tiket Kapal Pelni di Loktuan Ludes untuk Empat Keberangkatan
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa poin-poin kesepakatan yang lebih luas—termasuk di antaranya pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Teheran—akan dinegosiasikan lebih lanjut selama masa gencatan senjata 60 hari ke depan.
Meskipun pasar merespons positif, sejumlah analis memperkirakan stabilitas harga energi dunia masih memerlukan waktu. Pemulihan arus pasokan minyak secara penuh pasca-perang diprediksi akan memakan waktu hingga beberapa bulan ke depan, bukan dalam hitungan minggu.(*)
Editor : Thomas Priyandoko