Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

78 Persen Orangutan Hidup di Luar Cagar Alam, Lanskap Keraitan Kutim Resmi Jadi Pilot Project Areal Preservasi Pertama di Indonesia

Bayu Rolles • Senin, 15 Juni 2026 | 12:23 WIB
BKSDA Kaltim bersama sektor swasta dan pemda menyusun delineasi lahan lindung seluas 101 ribu hektare di Kutai Timur, guna meredam 70 persen konflik satwa akibat kepungan konsesi tambang dan sawit. (BKSDA KALTIM)
BKSDA Kaltim bersama sektor swasta dan pemda menyusun delineasi lahan lindung seluas 101 ribu hektare di Kutai Timur, guna meredam 70 persen konflik satwa akibat kepungan konsesi tambang dan sawit. (BKSDA KALTIM)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Konservasi selama ini identik dengan kawasan lindung yang tertutup dari aktivitas manusia. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan sebagian besar satwa terancam karena hidup di luar kawasan konservasi formal.

Realitas itu menjadi alasan di balik pembentukan Forum Konservasi Terpadu Lanskap Keraitan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim. Forum multipihak tersebut merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menyebut masa depan konservasi Indonesia tak lagi lagi bisa hanya bergantung pada kawasan lindung. "Di Indonesia, 80 persen keanekaragaman hayati penting berada di luar kawasan konservasi. Untuk orangutan, sekitar 76 hingga 78 persen populasinya juga ditemukan di luar kawasan yang dilindungi," ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.

Baca Juga: Terobosan Baru Lindungi Orangutan Morio, BKSDA Kaltim Desak Konsesi Tambang dan Sawit Kutim Masuk Forum Terpadu

Data itu, menurut Paulinus, menjadi penanda jika pendekatan konservasi mesti direvisi. Tak lagi cukup dengan pusat rehabilitasi atau suaka yang justru memberi dampak kecil pada kelestarian populasi liar Orangutan di habitat alaminya karena pembagian fungsi lahan.

Secara nasional, habitat orangutan diperkirakan mencapai 14 juta hektare. Namun hanya sekitar 24 persen yang berada di kawasan perlindungan formal, sementara sisanya tersebar di area penggunaan lain seperti konsesi perkebunan, pertambangan, hingga hutan produksi.

Karena itu, pendekatan berbasis lanskap dianggap jadi jalan tengah yang lebih realistis. Lanskap Keraitan di Kutim bahkan diproyeksikan jadi contoh pertama penerapan areal preservasi di Indonesia. Kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare itu merupakan salah satu habitat penting Orangutan Morio.

BKSDA Kaltim bersama Universitas Mulawarman dan Conservation Action Network resmi menjadikan kawasan seluas 560 ribu hektare ini sebagai pilot project sistem preservasi terpadu pertama di Indonesia guna mengamankan jalur jelajah Orangutan Morio. (BKSDA)
BKSDA Kaltim bersama Universitas Mulawarman dan Conservation Action Network resmi menjadikan kawasan seluas 560 ribu hektare ini sebagai pilot project sistem preservasi terpadu pertama di Indonesia guna mengamankan jalur jelajah Orangutan Morio. (BKSDA KALTIM)

Paulinus menjelaskan, tanpa intervensi bersama, setiap pemegang izin akan cenderung hanya fokus mengelola wilayahnya masing-masing. Akibatnya, habitat orangutan terpecah-pecah tanpa terkoneksi.

"Kalau konservasi dilakukan sendiri-sendiri, tidak akan cukup menampung kebutuhan orangutan. Yang kita butuhkan adalah satu kesatuan lanskap," katanya. Menurut dia, areal preservasi dapat memperluas ruang jelajah satwa sekaligus menjaga akses terhadap sumber pakan. Kehadiran koridor penghubung juga penting untuk mencegah isolasi populasi yang kerap memicu konflik dengan manusia.

"Kenapa orangutan muncul di jalan hauling, masuk permukiman, atau terlihat di pinggir jalan? Salah satu penyebabnya karena habitatnya terfragmentasi," ujarnya.

Akademisi Universitas Mulawarman sekaligus Ketua Forum Konservasi Terpadu, Yaya Rayadin, mengatakan forum tersebut sebenarnya bukan memulai mengoneksikan apa yang terpecah-pecah, melainkan mempercepat dan menyatukan berbagai inisiatif konservasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

"Forum ini mempercepat proses perlindungan dan konservasi di tingkat tapak. Selama ini masih ada fanatisme kelompok masing-masing. Mudah-mudahan di sini bisa lebih cair," katanya. 

Yaya menilai Lanskap Keraitan memiliki modal ekologis yang kuat. Selain ditopang Hutan Lindung Keraitan seluas sekitar 14 ribu hektare dengan tutupan vegetasi mencapai 94 persen, kawasan di sekitarnya juga didukung area bernilai konservasi tinggi milik sejumlah perusahaan.

"Yang menggembirakan, upaya konservasi yang selama ini dilakukan perusahaan ternyata mendapat dukungan pemerintah melalui skema areal preservasi yang sifatnya partisipatif. Kesadarannya sudah tumbuh, tinggal kita perkuat bersama," tutupnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#keraitan #preservasi orangutan #orangutan #kutim