Tak ada brosur, tak ada baliho raksasa. Cukup satu unggahan di media sosial atau siaran langsung dari tepi pantai. Keindahan Pulau Maratua bisa menyebar ke ribuan layar dalam hitungan menit.
RADEN RORO MIRA, Berau
BAGI pelaku wisata di pulau terluar Kabupaten Berau itu, internet kini telah menjadi bagian dari pengalaman berwisata. Manager Operasional Pratasaba Resort, Slamet Hariyanto, mengatakan sebagian besar wisatawan domestik yang datang berasal dari luar Berau, mulai Samarinda, Balikpapan, Pulau Jawa hingga Sulawesi.
Sementara wisatawan mancanegara didominasi pengunjung dari Eropa dan baru-baru ini ramai dari Tiongkok. "Kalau Tiongkok itu mereka lebih banyak diving di Pulau Maratua," kata pria yang karib disapa Eeng tersebut. Menurutnya, wisatawan asal Tiongkok umumnya menghabiskan waktu hingga tujuh hari enam malam untuk menikmati aktivitas menyelam.
Namun promosi wisata saat ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada agen perjalanan atau iklan konvensional. "Kadang-kadang tamu itu live langsung. Dia live misal lagi mau persiapan diving atau snorkeling. Biasanya ibu-ibu, pernah ada rombongan itu pada live mereka," ujarnya lalu terkekeh pelan.
Praktik sederhana itu justru menjadi promosi paling efektif. Wisatawan yang mengunggah pengalaman mereka secara langsung ikut memperkenalkan Maratua kepada calon wisatawan lain. Oleh sebab itu, kualitas jaringan internet menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku usaha wisata.
Eeng mengisahkan, sebelum konektivitas membaik, sinyal di kawasan resort pernah hilang hingga lima hari. "Di sini kita pernah hilang sinyal Telkomsel sampai lima hari," ungkapnya. Saat kondisi itu terjadi, pihak resort memanfaatkan akses internet publik yang tersedia di fasilitas pemerintah yakni dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk berkomunikasi dengan tamu maupun mitra usaha.
Akses tersebut diakuinya cenderung stabil dan banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk kebutuhan dasar dalam berselancar di dunia maya. Kini, menurut dia, tantangan terbesar bukan lagi keberadaan jaringan, melainkan kualitas dan kecepatan akses internet. "Harapan saya itu kecepatannya aja sih dari masyarakat. Kecepatan yang kurang, masih lambat," katanya.
Kebutuhan tersebut sejalan dengan pertumbuhan sektor pariwisata Berau. Pada 2024 jumlah kunjungan wisatawan mencapai 557.214 orang. Setahun kemudian angkanya melonjak menjadi 782.266 kunjungan atau naik sekitar 40 persen. Pemerintah setempat bahkan menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 950 ribu orang pada 2026.
Direktur BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar menilai konektivitas digital memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah terluar seperti Maratua. Menurut dia, paradigma pembangunan kawasan perbatasan kini telah berubah.
"Kedaulatan harus bernilai ekonomi," tegasnya. Dia menjelaskan pulau-pulau terluar tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang negara, melainkan beranda depan yang menghubungkan aktivitas ekonomi lokal dengan pasar nasional maupun internasional.
"Pulau terluar atau perbatasan bukan lagi sekadar garis kedaulatan, melainkan beranda depan bangsa yang menghubungkan ekonomi lokal dengan kawasan nasional maupun kawasan internasional," tegasnya. Oleh sebab itu, pembangunan konektivitas digital tidak semata-mata ditujukan untuk memperkuat aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Perempuan yang dipanggil Indah itu mengaku melihat langsung bagaimana internet dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku usaha wisata selama kunjungannya ke Maratua, 10-12 Juni lalu.
Adapun masukan dari pengguna jadi sarana perbaikan ke depan. "Kami meyakini bahwa tuntutan ini adalah tuntutan yang memang betul-betul berdasarkan keinginan masyarakat untuk mereka memanfaatkan internet terutama di pulau terluar untuk produktivitas mereka, untuk ekonomi mereka," katanya.
Di Maratua, internet memang tak lagi hanya menjadi alat komunikasi. Namun telah menjelma menjadi etalase digital yang membantu menjual pasir putih, terumbu karang, dan pengalaman menyelam kelas dunia kepada wisatawan dari berbagai belahan dunia. (riz)
Editor : Muhammad Rizki