Beberapa tahun lalu, persoalan utama di banyak wilayah terluar Indonesia adalah ada atau tidaknya sinyal. Kini pertanyaannya mulai bergeser, seberapa cepat koneksi yang tersedia?
RADEN RORO MIRA, Berau
PERUBAHAN kebutuhan itu juga terasa di Pulau Maratua, Kabupaten Berau. Ketika internet mulai hadir, masyarakat tidak lagi sekadar menggunakannya untuk berkirim kabar, tetapi juga menjalankan layanan pemerintahan, pendidikan, promosi wisata hingga aktivitas ekonomi.
Direktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital (BAKTI Komdigi) Fadhilah Mathar menyebut Kaltim termasuk salah satu daerah dengan capaian konektivitas digital yang cukup tinggi.
Berdasarkan data BAKTI, Bumi Etam memiliki 10 kabupaten/kota, 105 kecamatan, 197 kelurahan, dan 841 desa. Sebanyak 825 desa telah terkoneksi internet atau mencakup sekitar 98,1 persen desa yang terlayani. "Dari analisis yang kami lakukan di pusat, di Kaltim hanya tersisa 16 desa yang 100 persen tidak ada sinyal sama sekali," katanya.
Meski jumlahnya relatif kecil dibanding total desa, desa-desa tersebut tersebar di wilayah yang secara geografis memang menantang. Tujuh desa berada di Kutai Kartanegara, yakni Kupang Baru, Muara Tiq, Muara Salung, Muara Kebaq, Muara Belinau, Muara Tubo, dan Muara Enggelam. Lima desa lainnya berada di Berau, yaitu Panaan, Mapulu, Long Sului, Tabalar Ulu, serta Balikukup.
Sementara itu, Kutai Barat masih menyisakan Desa Gerunggung yang belum terjangkau sinyal. Adapun tiga desa blank spot di Mahakam Ulu adalah Long Merah, Long Gelawang, dan Lirung Ubing. Menurut perempuan yang karib disapa Indah itu, tidak semua wilayah blank spot akan diselesaikan menggunakan pendekatan yang sama.
"Ada beberapa wilayah di sini yang tidak berpenduduk ataupun kalau berpenduduk, penduduknya sedikit. Pada saat penduduknya sedikit, kami tidak akan datang dengan solusi 4G karena biayanya terlalu besar," ujarnya.
Sebagai alternatif, pemerintah menyiapkan solusi berbasis WiFi untuk wilayah dengan jumlah penduduk yang sangat terbatas. Secara nasional, Indonesia masih memiliki lebih dari 2.000 desa yang belum terjangkau layanan 4G. Untuk memperluas akses tersebut, BAKTI telah mengoperasikan 31.864 lokasi layanan internet dan membangun 6.747 BTS di berbagai daerah yang belum dilirik operator komersial.
Khusus di Kaltim, BAKTI telah membangun 604 lokasi layanan internet dan 48 BTS. Meski demikian, Sekretaris Kecamatan Maratua Armin Mashuri menilai kebutuhan masyarakat saat ini tidak lagi sebatas kehadiran jaringan.
"Yang kita butuhkan kan sinyalnya, bukan infrastrukturnya," tegasnya, Kamis (11/6) usai rombongan BAKTI menengok tower BTS yang ada di Bohe Silian. Menurut dia, masyarakat tidak terlalu mempersoalkan teknologi yang digunakan, baik satelit, fiber optik maupun sistem lainnya, selama mampu menghadirkan koneksi yang stabil.
"Maratua ini kan bukan lagi seperti 20 tahun yang lalu. Mereka butuh Instagram, butuh TikTok untuk memasarkan objek wisata yang mereka kelola," ujarnya. Armin menilai internet telah menjadi kebutuhan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, kualitas layanan harus terus ditingkatkan agar mampu mengimbangi pertumbuhan sektor pariwisata dan usaha lokal.
Menanggapi hal tersebut, Indah mengakui pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kondisi geografis hingga keterbatasan pasokan listrik di sejumlah wilayah. Namun dia menegaskan pembangunan konektivitas tetap menjadi fondasi penting menuju target Indonesia Emas 2045.
"Di tahun 2026-2027 dan seterusnya kita harus mempunyai landasan yang kuat dari sisi konektivitas. Misalnya salah satunya adalah pemukiman 100 persen sudah memiliki kapasitas internet atau sinyal yang baik," katanya. Menurut dia, ketika konektivitas semakin baik dan digitalisasi dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat maupun pemerintah, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi akan ikut meningkat.
Bagi warga Maratua, termasuk Abdul Gafar harapan itu sesungguhnya sederhana. Pengelola penginapan itu mengaku kecepatan jaringan adalah yang penting. Sebab kebutuhan utamanya adalah komunikasi. "Penginnya itu ada tower di Payung-Payung bagaimanapun caranya. Kalau enggak ada jaringan itu semua mati, karena usaha kita itu kan (berkaitan) dengan jaringan. Komunikasi dengan tamu," jelasnya. Gafar tidak sedang meminta teknologi paling canggih di dunia. Dia hanya ingin tetap terhubung dengan dunia yang kini bergerak semakin cepat.
Editor : Muhammad Rizki