KALTIMPOST.ID, PALU – Aktivitas gempa susulan masih terus terjadi setelah gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6). Hingga pukul 14.30 Wita, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 71 gempa susulan.
BMKG menjelaskan rangkaian gempa tersebut masih berkaitan dengan aktivitas Sesar Sausu yang menjadi pemicu gempa utama. Meski demikian, hasil pemantauan sementara menunjukkan tidak ada potensi tsunami akibat peristiwa tersebut.
Gempa utama terjadi sekitar pukul 10.27 WIB dengan kedalaman 16 kilometer. Titik pusat gempa berada di daratan sekitar 42 kilometer arah tenggara Kota Palu.
Baca Juga: Gempa M 6,7 Guncang Palu Hari Ini, Pasien RS Samaritan Berhamburan Dievakuasi
Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Daerah Palolo, Kabupaten Sigi, mengalami intensitas tertinggi, sementara wilayah Torue dan Parigi Selatan juga merasakan getaran kuat yang menyebabkan kepanikan warga.
Getaran turut dirasakan di Kota Palu, Sigi Biromaru, Poso, Donggala hingga Pasangkayu dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.
BMKG juga menerima laporan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan dan infrastruktur di kawasan terdampak. Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak paling berat, disusul Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso.
Otoritas mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan hingga dipastikan aman oleh petugas berwenang.
Selain Sigi dan Kota Palu, kerusakan akibat guncangan gempa juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain. BMKG mencatat wilayah Parigi Moutong dan Banawa Selatan mengalami dampak dengan intensitas V MMI, sedangkan Sindue, Balaesang, hingga Masamba berada pada kategori IV MMI.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas seismik di wilayah terdampak. Informasi terbaru mengenai gempa susulan akan terus diperbarui dan disampaikan kepada pemerintah daerah maupun masyarakat.
Menurutnya, pola gempa susulan umumnya akan berangsur menurun, baik dari sisi frekuensi maupun kekuatannya, seiring berjalannya waktu.
BMKG juga kembali menegaskan bahwa gempa bermagnitudo 6,7 tersebut tidak memicu ancaman tsunami. Kesimpulan itu diperoleh dari hasil analisis serta pemodelan yang dilakukan terhadap data kegempaan dan kondisi laut di sekitar pusat gempa.
Baca Juga: BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 6,7 Palu, 9 Gempa Susulan Guncang Sulteng hingga Siang
Sebagai langkah antisipasi, pemantauan terhadap sejumlah alat pengukur muka air laut atau tide gauge terus dilakukan. Hasil observasi menunjukkan kondisi perairan tetap normal.
Stasiun pemantau di Parigi maupun Poso tidak mencatat adanya perubahan muka air laut yang mengarah pada potensi tsunami. Sementara itu, sensor di Pelabuhan Pantoloan memang merekam kenaikan muka air sekitar 7,5 sentimeter, namun BMKG memastikan fluktuasi tersebut masih berada dalam batas aman dan tidak membahayakan masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie