KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kendati kontestasi elektoral akbar masih menyisakan waktu beberapa tahun ke depan, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kaltim, memilih bergerak cepat memanaskan mesin partai demi memutus tren kemerosotan suara.
Mengambil momentum evaluasi makro, partai berlambang Kakbah ini resmi mencanangkan program perombakan strategi dan rejuvenasi (pembetulan struktur usia) kepengurusan secara radikal, dari tingkat wilayah hingga akar rumput.
Ketua DPW PPP Kaltim, Gamalis, secara terbuka mengakui bahwa formula pendekatan sosiologis yang selama ini diterapkan instansinya sudah usang dan gagal membangun kedekatan emosional dengan segmen pemilih pemula, khususnya generasi Z.
Ditemui di Hotel Mercure Samarinda, Selasa (16/6), Gamalis menegaskan penataan ulang kekuatan di 10 kabupaten/kota akan diawali dengan draf verifikasi faktual yang super ketat guna menyaring figur ketua dan sekretaris tingkat cabang yang adaptif serta melek digital.
“Kalau dulu hanya administrasi, sekarang ada verifikasi faktual, sehingga bisa menuntun kita untuk melakukan koordinasi, khususnya DCP dan PAC,” kata Gamalis. Pendataan memang dilakukan ketat, mengingat PR yang dimiliki PPP begitu banyak. Mulai dari berkurangnya kursi legislatif di 10 kabupaten/kota, hingga DPD Kaltim.
Pemilihan calon ketua DPC kata Gamalis, adalah hal yang paling penting untuk menentukan kekuatan di Pemilu 10 kabupaten/kota. “Memilih ketua DPC tentu adalah hal yang utama, untuk menyukseskan pemilu, apalagi legislatif, kursi kita minim saat ini,” sebutnya.
Tak hanya pemilihan DPC, Gamalis mengaku sebagai partai berbasis Islam, pesantren dan sekolah agama Islam bakal menjadi tujuan. Diakui Gamalis, sebagai partai tua, pendekatan-pendekatan yang disusun sudah tidak relevan.
“Sehingganya kawan-kawan muda khususnya Gen Z, itu tidak familiar dengan partai ini. Mereka lebih familiarnya ke partai nasionalis kalau yang agamis mereka kurang minat,” bebernya. Tidak hanya partainya, Gamalis menyebut namun orang didalamnya juga sudah tua, sehingga mereka membutuhkan bantuan generasi muda untuk menyusun strategi.
“Misal ketua mungkin bolehlah milenial atau usianya 30 tahun keatas, tapi sekretaris harus yang muda, yang ide-idenya masuk ke kalangan muda, biar mereka tertarik,” Gamalis memungkasi. (riz)
Editor : Muhammad Rizki