KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Di hamparan karst yang membentang dari Sangkulirang hingga Mangkalihat, Kalimantan Timur sedang menyiapkan sebuah langkah besar. Kawasan yang selama ini dikenal menyimpan gua prasejarah, hutan tropis, hingga keanekaragaman hayati langka itu kini berada di ambang penilaian penting, yakni layak atau tidak menyandang status Geopark Nasional.
Penentuan itu akan memasuki babak krusial pada 6-10 Juli 2026, saat Tim Verifikasi Geopark Nasional turun langsung ke lapangan. Hasil kunjungan tersebut akan menjadi salah satu penentu apakah Sangkulirang-Mangkalihat bisa resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional, sebelum nantinya diarahkan menuju pengakuan internasional sebagai UNESCO Global Geopark.
Persiapan itu kemudian dibahas dalam Seminar bertajuk "Membangun Sinergi Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha, Komunitas, dan Masyarakat dalam Mendukung Penegapan Geopark Sangkulirang Mangkalihat"
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Kaltim, Puji Hartono mengatakan, saat ini seluruh pihak yang terlibat tengah berupaya menyatukan langkah untuk menyambut tim verifikator. "Kita optimistis. Harapannya kawasan Sangkulirang-Mangkalihat bisa ditetapkan sebagai Geopark Nasional, bahkan ke depan menjadi geopark internasional," ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Usulan penetapan Geopark Nasional sebenarnya telah berjalan sejak tahun lalu. Pemprov Kaltim mengajukan surat kepada Kementerian PPN/Bappenas pada Agustus 2025 sebagai bagian dari proses pengusulan. Permohonan resmi juga telah disampaikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Tim Verifikasi Geopark Nasional.
Baca Juga: BPK Bongkar Skandal Anggaran di Kukar: Satu ASN Terima Honor 900 Kali Setahun Senilai Rp 9,5 Miliar!
Sebagaimana mekanisme yang berlaku, proses tersebut meliputi verifikasi dokumen, verifikasi lapangan, Focus Group Discussion (FGD), hingga rapat Tim Verifikasi Geopark Nasional sebelum akhirnya diputuskan Menteri ESDM. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, proses penetapan biasanya memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun.
Yang membuat kawasan ini istimewa bukan hanya bentang alamnya. Di dalam area usulan geopark seluas lebih dari dua juta hektare itu terdapat 26 situs warisan geologi, 13 situs keanekaragaman hayati, dan tujuh situs warisan budaya.
Wilayah tersebut juga mencakup ruang hidup masyarakat yang luas. Di Kabupaten Berau terdapat 83 kampung dan delapan kelurahan dalam kawasan geopark, sementara di Kabupaten Kutai Timur terdapat 60 desa dan dua kelurahan. Pada saat yang sama, kawasan ini juga menjadi ruang berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari kehutanan, perkebunan sawit hingga pertambangan batu bara.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar mendapatkan status geopark, melainkan menyatukan beragam kepentingan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. "Sebetulnya kegiatan-kegiatan di kawasan itu sudah ada sejak lama. Hanya saja masih terpisah-pisah. Sekarang kita mencoba merangkainya dalam satu identitas besar bernama Geopark Sangkulirang-Mangkalihat," kata Puji.
Menurut dia, salah satu pekerjaan rumah yang masih dilakukan adalah memperkuat kesiapan lapangan agar seluruh potensi yang ada dapat ditampilkan secara utuh kepada tim verifikator.
Rute kunjungan pun telah disiapkan. Tim verifikasi dijadwalkan tiba melalui Bandara APT Pranoto Samarinda, kemudian bermalam di Sangatta sebelum melanjutkan perjalanan ke Kaliorang. Sepanjang perjalanan, mereka akan diperlihatkan bentang karst, berdiskusi dengan para pemangku kepentingan, mengunjungi Gua Mengkuris hingga kawasan pesisir Biduk-Biduk di Kabupaten Berau.
Senior Manajer Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Niel Makinuddin menjelaskan, kunjungan lapangan merupakan tahap kedua setelah rekomendasi dari pemerintah daerah disampaikan ke pemerintah pusat.
Karena waktu verifikasi hanya sekitar lima hari, tidak semua lokasi akan dikunjungi. Tim hanya akan melihat sejumlah kawasan prioritas yang dianggap mewakili keunggulan Sangkulirang-Mangkalihat. "Setelah verifikasi lapangan nanti akan ada FGD dengan para stakeholder. Setelah itu baru diputuskan apakah geopark ini ditetapkan, perlu perbaikan, atau ada catatan lain," jelasnya.
Menurut Niel, geopark bukan semata-mata soal batuan, gua, atau bentang alam. Konsep ini merupakan upaya menghubungkan konservasi alam, kesejahteraan masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Sebab, geopark memiliki tiga pilar utama. Pertama, konservasi untuk menjaga warisan geologi dan keanekaragaman hayati. Kedua, pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Ketiga, riset dan edukasi. Di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, kata dia, masih banyak potensi ilmiah yang belum terungkap. Mulai dari spesies ikan endemik, tumbuhan langka, hingga berbagai temuan yang berpotensi memperkaya pengetahuan sains.
Namun manfaat geopark tidak berhenti di situ. Dalam jangka panjang, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi motor ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dibanding sektor ekstraktif. "Geopark ini sebenarnya bagian dari transisi ekonomi. Dari yang sebelumnya bertumpu pada sumber daya ekstraktif menuju ekonomi kreatif dan berkelanjutan," ujarnya.
Pariwisata berbasis masyarakat menjadi salah satu fokus utama. Masyarakat kampung diharapkan menjadi aktor utama, mulai dari penyedia homestay, pemandu wisata, hingga pelaku usaha lokal yang mengelola potensi daerahnya sendiri.
Menariknya, banyak kampung di dalam kawasan geopark sebenarnya sudah menjalankan praktik-praktik yang sesuai dengan konsep geopark, meski belum mengenalnya dengan nama tersebut. "Mungkin ada yang bilang belum tahu apa itu geopark. Tapi sesungguhnya mereka sudah melakukan hal-hal yang menjadi bagian dari geopark. Tinggal sekarang bagaimana semuanya dibungkus dalam satu identitas bersama," kuncinya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki