Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ben Gvir Serukan Bakar Lebanon Usai 4 Tentara Israel Tewas, Dunia Internasional Mengecam

Dwi Puspitarini • Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:41 WIB
LEBANON: Salah satu sudut kota Lebanon usai dibom Israel.(rtr)
LEBANON: Salah satu sudut kota Lebanon usai dibom Israel.(rtr)

KALTIMPOST.ID - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menuai kecaman internasional setelah menyerukan tindakan ekstrem terhadap Lebanon menyusul tewasnya empat tentara Israel dalam pertempuran di Lebanon Selatan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah, meskipun upaya gencatan senjata sedang dilakukan untuk meredakan konflik di kawasan tersebut.

Baca Juga: Dua Pria Tewas di Selokan Bekasi, Empat Orang Sudah Diamankan Polisi

Ben Gvir Serukan Pembakaran Lebanon Setelah Kematian Tentara Israel

Empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam pertempuran jarak dekat dengan kelompok Hizbullah di Lebanon Selatan pada Kamis (18/6/2026). Sehari setelah insiden tersebut, Itamar Ben Gvir menyampaikan pernyataan kontroversial melalui media sosial X yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak.

Dalam unggahannya, Ben Gvir menyerukan tindakan balasan yang lebih keras terhadap Lebanon.

"Untuk setiap air mata seorang ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis." Tulisnya, yang dilansir dari inews, Sabtu (20/6).

Selain itu, Ben Gvir juga menyatakan bahwa seluruh wilayah Lebanon harus dibakar sebagai respons atas kematian para tentara Israel. Pernyataan tersebut segera menjadi sorotan internasional karena dinilai dapat memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Baca Juga: Dokter Tifa Gunakan Kursi Roda Usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri, Refly Harun Beberkan Penyebabnya

Negara Eropa Kecam Pernyataan Ben Gvir

Seruan Ben Gvir mendapat kecaman dari sejumlah negara Eropa. Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menyebut pernyataan tersebut sebagai tindakan provokatif yang berpotensi memperburuk konflik di kawasan.

Menurut Eide, komentar yang disampaikan Ben Gvir tidak membantu upaya perdamaian yang sedang berlangsung. Ia menilai pernyataan tersebut justru memperbesar rasa takut dan ketidakpastian di Lebanon maupun negara-negara Timur Tengah lainnya.

Eide mengatakan, "(Pernyataan itu) Sejalan dengan serangkaian tindakan panjang menteri keamanan Israel yang berkontribusi dalam menciptakan ketakutan dan ketidakpastian, tidak hanya di Lebanon, tapi juga seluruh Timur Tengah."

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan adanya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Kesepakatan tersebut muncul setelah adanya upaya diplomatik yang juga melibatkan Iran untuk mengurangi eskalasi konflik di kawasan.

Namun sebelum pengumuman gencatan senjata tersebut, serangan terbaru Israel ke Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 31 orang dan menyebabkan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Konflik yang berlangsung sejak awal Maret juga telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar.

Berdasarkan data resmi terbaru, operasi militer Israel di Lebanon yang dimulai pada 2 Maret telah menyebabkan 3.912 orang meninggal dunia dan 11.873 lainnya terluka. Selain itu, lebih dari satu juta warga dilaporkan mengungsi akibat konflik yang terus berlangsung.

Sementara itu, operasi darat Israel juga dilaporkan semakin meluas dengan pasukan bergerak hingga sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon dari garis perbatasan kedua negara. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi lebih luas jika tidak segera dikendalikan melalui jalur diplomasi.***

Editor : Dwi Puspitarini
#Konflik Lebanon #Ben Gvir #Israel #lebanon