KALTIMPOST.ID-Antrean kendaraan di sejumlah SPBU penyalur pertalite di Kaltim khususnya Balikpapan masih menjadi pemandangan yang sulit dihindari dalam sepekan terakhir.
Fenomena itu mencuat setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax. Dari harga Rp 12.600 per liter menjadi Rp 16.650 pada 10 Juni lalu.
Dari pengamatan Kaltim Post di lapangan terutama di pagi dan malam hari, antrean terjadi karena banyak pengguna kendaraan yang sebelumnya mengonsumsi pertamax beralih ke pertalite.
Itu disebabkan karena selisih harga yang semakin lebar. Membuat permintaan Pertalite melonjak dalam waktu singkat. Itu terlihat dari data penjualan di tingkat SPBU.
Manajer SPBU Gunung Guntur Balikpapan Randy Faisal Hud mengungkapkan kenaikan harga pertamax langsung berdampak pada pola pembelian konsumen sejak hari pertama kebijakan diberlakukan.
Menurut dia, rata-rata penjualan pertalite di SPBU Gunung Guntur sebelumnya berada pada kisaran 23 hingga 24 kiloliter per hari. Namun setelah harga pertamax naik, konsumsi Pertalite meningkat menjadi sekitar 28 hingga 29 kiloliter per hari.
“Begitu harga pertamax naik, banyak konsumen beralih ke pertalite. Penjualan pertalite kami meningkat cukup signifikan,” ujarnya.
Sebaliknya, penjualan pertamax mengalami penurunan. Jika sebelumnya konsumsi pertamax di SPBU tersebut mencapai sekitar 8 hingga 9 kiloliter per hari, kini turun menjadi sekitar 6 kiloliter per hari.
Kondisi serupa juga terjadi pada dexlite. Meski volume penjualannya tidak sebesar pertamax maupun pertalite, kenaikan harga membuat konsumsi dexlite ikut mengalami penurunan.
Randy mengatakan lonjakan permintaan pertalite turut berdampak pada antrean kendaraan di SPBU. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat mengalami peningkatan jumlah antrean dibandingkan kondisi normal.
Baca Juga: Hari Bhayangkara Ke-80, Ribuan Warga Padati Alun-Alun Itho Ikuti Jalan Santai Polres Kubar
“Kalau sebelumnya antrean masih dalam batas wajar, sekarang memang ada peningkatan yang cukup terasa. Baik roda dua maupun roda empat bertambah karena sebagian konsumen yang biasanya membeli pertamax beralih ke pertalite,” katanya.
Mengantisipasi peningkatan konsumsi tersebut, Pertamina telah meminta seluruh pengelola SPBU untuk melakukan pengawasan stok secara lebih ketat.
SPBU juga diminta segera berkoordinasi dengan depot apabila membutuhkan tambahan pasokan untuk menghindari kekosongan stok di lapangan.
Menurut Randy, langkah tersebut penting mengingat tren peningkatan konsumsi pertalite masih berpotensi berlanjut selama disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi masih cukup lebar. (rd)
Editor : Romdani.